MASIGNASUKAv101
513548225817861431

Apakah Salah Mencintai Seseorang karena Fisiknya Saja?

Apakah Salah Mencintai Seseorang karena Fisiknya Saja?
Add Comments
22/05/22


Cinta adalah kecenderungan hati dan keterikatan antara dua insan. Cinta adalah tahap tertinggi yang berhasil dicapai setelah proses pengenalan. Cinta tak perlu pusing didefinisikan, cukup dirasakan. Karena, tentu akan ada banyak definisi tentang cinta dari berbagai perspektif. Namun yang terpenting adalah bagaimana merasakan induhnya hidup karena cinta dan mencintai.

Cinta adalah bukti kekuasaan Allah yang mampu menghadirkan indahnya perasaan di luar kendali manusia. Akan tetapi, cinta tak bisa dipaksakan, ia hadir secara alami. Motif cinta pun beragam, salah satunya karena kecantikan fisiknya.

Umumnya seorang pencinta akan terlebih dahulu melihat kondisi fisik orang yang ia cintai, sebab itulah apa yang tampak zahir. Namun, berjalannya waktu, apakah dibenarkan jika bertahan mencintai seseorang hanya karena tampilan fisiknya?

Penyebab cinta
Cinta memang dapat tumbuh dari beberapa sebab. Cinta adalah tentang pertimbangan, termasuk dari segi kecantikan atau ketampanannya adalah hal yang dimaklumi. Namun, seiring bertambahnya usia, maka kecantikan fisik pun akan layu. Pertanyaan pun muncul, apakah seorang pencinta akan tetap mencintai kekasihnya bila kecantikannya sudah pudar?

Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Raudhotul Muhibbin mengatakan bahwa, "Memang cinta dapat tumbuh karena sebab-sebab tertentu, tetapi cinta itu akan segera lenyap seiring dengan lenyapnya sebab." Dapat diartikan bahwa, jika kita mencintai seseorang hanya karena kecantikannya saja, maka cinta tersebut dapat dikatakan cinta bersyarat.

Sebab, ia hanya akan mencintai sepanjang kecantikan tetap menempel pada kekasihnya itu. Namun, ketika kecantikannya pudar, pudar pula lah cintanya tersebut. Di sisi lain, orang yang dengan sadar memiliki kelebihan di faktor wajah, tidak sedikit yang merasa jumawa.

Bahkan dengan kecantikannya itu menganggap ia dapat menawan hati setiap pria yang memandangnya. Begitu pula sebaliknya berlaku untuk pria, dengan kekayaan atau ketampanan yang ia punya merasa menjadi raja yang dapat sepuasnya mempermainkan hati wanita.

Erich Fromm dalam bukunya Seni Mencintai, menilai orang yang demikian hanya manganggap bahwa "soal cinta yang terpenting adalah dicintai, bukan kapasitasnya untuk mencintai". Jelas ini adalah keliru, karena orang seperti ini hanya akan menyibukkan dirinya dengan memoles wajahnya dan tebar pesona.

Mencintai yang baik
Di buku yang sama, Erich Fromm mendefinisikan cinta erat kaitannya dengan bagaimana seorang pencinta harus bersikap. Cinta menurut Erich Fromm adalah aktivitas, bukan afek pasik; cinta adalah keadaan "berada dalam cinta" (standing in love), bukan "sekadar jatuh cinta" (falling in love).

Karakter aktif cinta dapat digambarkan bahwa cinta itu memberi, bukan menerima. Memberi di sini jangan diartikan sebagai menyerahkan sesuatu dan berkorban. Orang semacam ini disebut  orang dengan karakter dagang. Ia hanya akan memberi sebagai ganti dari menerima. Memberi tanpa menerima baginya adalah sebuah kerugian. 

Orang dengan karakter dagang tidak sulit untuk ditemukan, bahkan jamak diderita oleh para pencinta. Mereka merasa bahwa pengorbanannya atau apa yang ia berikan harus mendapatkan hasil berupa sesuatu yang ia anggap harus diterima. Nietzsche menganggap orang seperti itu adalah arogan, dengan mengatakan, "Permintaan agar dicintai adalah jenis arogansi yang paling besar."

Memberi berarti mengabdikan hidupnya. Tapi, bukan berarti mengorbankan dirinya untuk orang lain, namun memberikan apa yang hidup dalam dirinya, seperti perhatiannya, kesenangannya, pengetahuannya, candanya, kesedihannya, dan segala perwujudan yang hidup dalam dirinya. Bayangkan jika laki-laki dan wanita mencintai dengan seperti ini, maka cintanya akan bertimbal balik dan menghasilkan kekuatan cinta.

Makna kecantikan
Kecantikan tidak hanya sebatas fisik saja. Kecantikan terdiri dari dua macam, yakni kecantikan lahir dan kecantikan batin. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qoyyim dalam Raudhotul Muhibbin, contoh kecantikan lahir adalah rupa yang elok dan suara yang merdu. Sedangkan kecantikan batin yaitu sesuatu yang dicintai jiwa, seperti ilmu, kemurahan hati, keberanian, dan lain-lain.

Kecantikan batin inilah yang akan memperindah rupa lahir, meskipun dari sisi lahiriyyah tampak tidak elok. Maka dari itu, kecantikan batin haruslah menjadi pertimbangan utama dan sebenar-benarnya qurrota a'yun (penyejuk mata).

Dapat dimaknai bahwa, yang menjadi kuat hubungan cinta itu adalah kecantikan dari batin. Sebab kecantikan batin atau jiwa itu akan semakin 'harum', lain halnya kecantikan fisik dalam waktu ke waktu akan layu. Seperti yang dikatakan oleh Khalil Gibran, "Kecantikan fisik akan memudar, seperti layunya bunga. Dan kecantikan jiwa akan tetap bersinar sepanjang zaman."

Karena itu jiwa yang luhur dan mulia adalah yang paling layak dicintai. Sifat saling memahami tentu akan melanggengkan hubungan, meski terkadang badai masalah berdatangan. Sastrawan Jerman bernama Johan Wolfgang von Goether berkata, "Cinta bukanlah tentang bagaimana saling menguasai, namun saling mengolah tenggang rasa."

Lebih lagi, cinta bukan hanya penerimaan terhadap kelebihan, tetapi juga penerimaan terhadap kekurangan. Karena, seperti yang disabdakan Khalil Gibran, "Cinta tumbuh bukan sebab menemukan orang sempurna, tapi kemampuan menerima kelemahan orang itu secara sempurna."

Sumber thumbnail: Unsplash/Lucas Sankey

Zay A.

Mahasiswa hukum yang tertarik dengan filsafat, psikologi, sejarah, dan bidang apa saja, kecuali matematika.

Rules Comment :

1. Dilarang Spam
2. Berkomentarlah yang baik
3. Dilarang menggunakan kata komentar dengan kata kasar atau sebagainya
4. Harap untuk tidak menyebarkan link yang membuat spam, rusuh. unsur porno, sara, dan sebangsanya
5. Komentar harus sesuai dengan isi artikel

*Jika ingin bertanya di luar topik, silahkan klik menu Off Topic