MASIGNASUKAv101
513548225817861431

Nietzsche: Si Filsuf Gila yang Fakir Cinta

Nietzsche: Si Filsuf Gila yang Fakir Cinta
Add Comments
15/10/21


    Nietzsche adalah filsuf aliran eksistensialis modern. Nama lengkapnya adalah Friedrich Wilhelm Nietzsche, lahir dari pasangan Carl Ludwig dan Franziska Oehler pada 15 Oktober 1844 di Röcken, Lützen, Jerman. Latar belakang keluarga Nietzsche bisa dibilang religius, terpandang, dan berpendidikan. Ayahnya adalah pendeta Lutheran. Kakek dan kakek buyut Nietzsche dari pihak ibu pendeta pula.

Nietzsche menjadi salah satu filsuf barat yang berpengaruh. Pemikirannya sampai sekarang bahkan masih diminati dan menjadi bahan diskusi akademisi. Pemikiran Nietzsche dipengaruhi oleh filsuf sebelumnya, seperti Arthur Schopenhauer, Immanuel Kant, Plato, dan lainnya. Nietzsche dikenal cerdas, di usia 24 tahun, tepatnya pada 13 Februari 1869, ia ditunjuk menjadi profesor pembantu untuk fakultas Filologi Klasik di Universitas Basel oleh profesornya bernama Ritschl.

Konsep Amor Fati adalah satu di antara sekian teori masyhur Nietzsche yang mengajak kita untuk merenungi dan tidak menyerah dalam hidup. Kita tidak hanya menanggung apa yang tidak dapat kita ubah, bahkan kita harus mencintainya.  

Sesuai dengan makna secara bahasa yaitu amor yang artinya cinta, dan fatum yang berarti nasib. Kita semestinya mencintai apa saja yang hadir dalam hidup kita; mencintai realitas yang ada. Namun, kali ini kita tidak secara khusus membahas pemikirannya, yang akan dibahas kali ini adalah kisah cintanya yang begitu kelam yang bahkan bisa dibilang memengaruhi karyanya.

Jatuh cinta
Nietzsche diketahui membujang sampai akhir hayatnya. Ia pernah mencintai satu wanita dan ingin menikahinya. Tapi, cintanya bertepuk sebelah tangan. Wanita itu bernama Lou Andréas Salome, gadis muda cerdas yang berasal dari Rusia. 

Mengutip buku Gaya Filsafat Nietzsche (2017), karya A. Setya Wibowo, mereka berkenalan sekitar April 1882 berkat jasa sahabat Nietzsche, yakni Paul Rée atau Malwida von Meysenburg. Berjalannya waktu, Nietzsche sangat tertarik kepada Lou, dan bahkan pernah menyatakan cintanya tersebut lewat lamaran.

Sedihnya, Lou menolak lamaran Nietzsche sampai dua kali. Satu waktu, Lou berkata kepada Nietzsche bahwa ia bersedia menerima lamarannya, asalkan mengizinkannya untuk tetap mencintai Paul Rée. Sakitnya ditolak ditambah mengetahui fakta bahwa gadis pujaannya lebih menyukai sahabatnya membuat Nietzsche memutus tali silatuharim dengan keduanya. 

Jadi sadboy
Kenyataan pahit tersebut memengaruhi pandangan Nietzsche terhadap wanita dan cinta. Rasa kecewa yang timbul ia ekspresikan dalam bentuk aforisme-aforismenya. Nietzsche beranggapan bahwa perempuan selalu jatuh cinta terhadap fisik. Anggapan ini dapat lahir di benak Nietzsche sebab ia memandang penolakan Lou disebabkan fisiknya yang tidak menarik di mata Lou. 

Dalam buku The Story of Philosophy karya Will Durant, ia menulis bahwa pemikiran aforisme-aforisme Nietzsche tersebut terjadi setelah peristiwa penolakan cintanya. Berikut beberapa kutipan aforisme-aforisme Nietzsche yang berkaitan dengan pengalaman hidupnya.
"Permintaan agar dicintai adalah jenis arogansi yang paling besar."

"Perempuan bisa dengan mudah menjalin persahabatan dengan seorang laki-laki, tapi untuk mempertahankannya - sedikit antipati fisik bisa sangat membantu."

"Setiap orang membawa dalam dirinya sebuah citra perempuan yang dia peroleh dari ibunya; itu menentukan apakah dia akan menghormati perempuan pada umumnya, atau menghinakan mereka, atau secara umum tidak peduli dengan mereka."


Akhir yang tragis
Diagnosis formal dari Rumah Sakit mengatakan bahwa Nietzsche terserang penyakit sifilis syaraf (meningo enchepalite). Gejala awalnya berupa sakit kepala dan mata yang kambuh. Semakin lama penyakit yang diidapnya semakin parah, hingga kesehatan mentalnya bermasalah pada Desember 1888. Dan pada Januari 1889, krisis kegilaan menyerangnya.

Infeksi sifilis ditambah sakit jiwa yang dialami Nietzsche membuatnya tidak dapat lagi berpikir secara sehat dalam dua tahun terakhir masa hidupnya. Akhirnya, pada 25 Agustus 1900, Nietzsche mengembuskan nafasnya yang terakhir.

Hamid Auni

Mahasiswa hukum yang hidup berkelana di tanah perantauan. Tertarik dengan bidang ilmu filsafat, psikologi, sejarah, dan bidang apa saja, kecuali matematika.

Rules Comment :

1. Dilarang Spam
2. Berkomentarlah yang baik
3. Dilarang menggunakan kata komentar dengan kata kasar atau sebagainya
4. Harap untuk tidak menyebarkan link yang membuat spam, rusuh. unsur porno, sara, dan sebangsanya
5. Komentar harus sesuai dengan isi artikel

*Jika ingin bertanya di luar topik, silahkan klik menu Off Topic