MASIGNASUKAv101
513548225817861431

Faktor yang Menyebabkan Orang Miskin akan Tetap Miskin

Faktor yang Menyebabkan Orang Miskin akan Tetap Miskin
Add Comments
15/01/21


   Mungkin kita tak asing dengan seminar dengan tema "Sukses di Usia Muda" dan semacamnya dengan mengundang narasumber-narasumber yang tentunya sudah 'merasakan indahnya dunia'. Di dalamnya pula para narasumber acapkali mengatakan bahwa kunci kesuksesan adalah kerja keras. Namun, apakah kalimat ajaib tersebut berlaku bagi semua kalangan?

Apakah benar orang miskin dapat mengubah nasibnya jika hanya bekerja dengan keras? Apakah cukup dengan bekerja keras maka kehidupan yang mereka jalani akan berubah 180 derajat? Apakah fakta di lapangan menunjukan demikian?

Dalam jurnal dengan judul "Kemiskinan, Model Pengukuran, Permasalahan dan Alternatif Kebijakan" yang ditulis oleh Nunung Nurwati disebutkan bahwa bangsa Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar pada tahun 2007 yaitu 231,6 juta jiwa dan dianugerahi dengan sumber daya alam yang melimpah. 

Akan tetapi ironisnya menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007, jumlah penduduk miskin sebesar 37,17 juta jiwa atau 16,58% dari total penduduk Indonesia. Sementara di bulan maret 2020, BPS menyatakan bahwa terdapat kenaikan persentasi penduduk miskin diangka 26,42%. salah satu faktornya ialah pandemi Covid 19.

Kemiskinan merupakan masalah yang selalu dihadapi manusia, akan tetapi terkadang kemiskinan sering tidak disadari kehadirannya sebagai masalah oleh manusia yang bersangkutan. Kesadaran terhadap kemiskinan akan dirasakan ketika membandingkan kehidupan yang sedang dijalani dengan kehidupan orang lain yang tergolong mempunyai tingkat kehidupan ekonomi lebih tinggi. Dan ini juga yang membuat pemerintah kesulitan dalam melakukan sensus.

Fasilitas serba terbatas
Jika diberikan pilihan, pasti setiap orang akan memilih lahir dalam keluarga yang kaya atau cukup dari segi finansial, tapi apalah daya, pilihan yang seperti itu hanya sebatas harap. Kita tidak bisa memilih lahir dikeluaga seperti apa, anak yang dilahirkan dalam keluarga yang miskin memiliki beberapa permasalah, mulai dari orang tua yang tidak mampu memberikan fasilitas untuk menunjang pertumbuhan si anak. 

Hingga dalam beberapa kasus justru si anak yang ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Banyak kasus anak dibawah umur sudah mulai bekerja dan tidak sedikit yang akhirnya putus sekolah. tentu ini akan mempengaruhi perkembangan si anak ya sewajarnya pada saat itu sedang dalam masa bermain- main. 

Pada penelitian yang dilakukan oleh Elizabeth Sowwel, PhD dan tim menyebutkan bahwa terdapat perbedaan perkembangan otak pada anak yang terlahir di keluarga kaya dengan anak yang lahir di keluarga yang miskin. Perkembangan otak anak yang terlahir dari keluarga kaya cenderung lebih berkembang daripada anak yang lahir di keluarga miskin. Hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam, fasilitas, cara mendidik dan terhindar dari timbal yang pada akhirnya anak dari keluarga kaya memiliki banyak pilihan dan kesempatan dibanding anak dari keluarga yang miskin. 

Tidak memiliki 'privilege'
Dalam dunia kerja, selain relasi, kemampuan dan kualitaslah yang menentukan. Untuk mengasah kemampuan tersebut tentu harus merogoh kocek yang lebih dalam lagi. Jika berbicara tentang dunia usaha, tentu modal menjadi alasan yang membuat banyak orang mengurungkan niatnya untuk merintis sebuah usaha. Sementara itu, anak yang terlahir di keluarga kaya tidak sedikit yang di warisi perusahaan, ataupun sebuah usaha. Yang perlu mereka lakukan hanyalah memastikan perusahaan atau usahanya berjalan dengan baik.

Jika kita membuat perbandingan, mayoritas anak dari keluarga miskin akan langsung berkerja setelah tamat SMA, entah sebagai pelayan di restoran, buruh pabrik, ojek online, bahkan tidak sedikit yang sudah berkerja pada usia yang masih belia sehingga mengorbankan masa kecil mereka yang riang. Mereka lebih banyak mengandalkan tenaganya di masa muda untuk kebutuhan perut.

Kemungkinan untuk naik jabatan sangat kecil. Sementara bagi mereka yang cukup beruntung lahir di keluarga kaya, mereka memiliki pilihan, bisa memulai bisnis dengan modal yang disediakan atau menempuh pendidikan lebih tinggi baik dalam maupun  luar negeri. Mereka yang terlahir kaya bisa lebih leluasa untuk mengembangkan potensinya sehingga lebih siap menghadapi persaingan di luar sana. Apabila gagal, anak orang kaya masih punya modal dari orang tuanya, lain halnya bagi mereka yang lahir dari keluarga miskin. 

Mereka yang terlahir miskin juga harus berjuang mengumpulkan modal yang kiranya makin lama makin susah, ditambah lagi kebutuhan pribadi dan keluarganya yang menjadikannya semakin tidak mungkin untuk memulai suatu usaha. Banyak kasus anak dari keluarga yang miskin justru bekerja tanpa memiliki kemampuan yang mumpuni, sehingga mereka pada akhirnya akan dibayar murah. 

Sibuk memikirkan besok makan apa
Maka mereka tidak akan sempat untuk memikirkan peluang usaha yang menguntungkan, prioritas mereka jelas sangat berbanding terbalik dengan orang yang memang sudah terlahir kaya. Tentu uang memang bukan segalanya, akan tetapi, semuanya memerlukan uang. 

Satu hal yang paradoks bukan? Banyak anak yang harus putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya sekolah, dan bukan rahasia lagi kalau mereka yang memiliki uang akan lebih dilancarkan urusannya. Jika merujuk pada data kemiskinan, tiap tahunnya justru angka kemiskinan terus naik

Tidak jarang kita temui, mereka yang mencoba merubah nasibnya justru jadi sasaran empuk bullying, umpatan, seakan mereka dipaksa untuk menerima segala penderitaanya dan dimatikan harapannya. Setiap kesempatan yang ada akan selalu dibenturkan dengan kondisinya yang menyedihkan. 

Dari sini kita lihat betapa luar biasanya perjuangan mereka, saking luar biasanya, mereka harus bekerja ekstra berkali-kali lipat dari yang lain. Tidak sedikit dari mereka yang merasa rendah diri dan sudah putus asa untuk merubah nasibnya, untuk apa berusaha keras, toh pada kenyataannya kemungkinan untuk berhasil juga kecil. 

Kecenderungan diperlakukan buruk
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Bagong Susantyo tentang "Perlindungan Sosial bagi Anak- Anak Miskin di Perkotaan" menunjukan bahwa keadaan anak - anak dari keluarga miskin yang terpaksa bekerja di sektor domestik maupun publik cenderung menjadi korban perlakuan diskriminatif dan rentan dieskploitasi, serta mudah terkontaminasi pengaruh buruk pekerja dewasa yang terpenting pekerja anak juga kehilangan akses untuk mengembangkan diri secara fisik, mental, dan intelektual. 

Para pekerja anak yang diwawancarai dalam studi ini selain dalam posisi tak berdaya, rata- rata mereka juga sangat rentan terhadap eksploitasi ekonomi. Sebaliknya, anak-anak yang berasal dari keluarga mapan secara ekonomi, cenderung diberikan kesempatan  untuk terlibat penuh dalam kegiatan belajar, sehingga tumbuh kembangnya pun maksimal. 

Namun, faktanya tidak sedikit orang- orang sukses memang memulai dari Nol; hidup dalam kemiskinan. Tidak hanya dengan kerja keras, tapi juga membaca melihat peluang dan berupaya mengasah bakat, dan perdalam ilmu pengetahuan.

Bill Gates pernah berkata, "Jika Anda terlahir miskin itu bukan kesalahan Anda, tetapi jika Anda meninggal dalam keadaan miskin, itu kesalahan Anda." Hal ini berarti boleh saja terlahir dalam keadaan miskin, tetapi jika kita hidup tetap dalam keadaan miskin itu salah. Terakhir, jangan pernah lelah untuk bermimpi dan berjuang, tetap positif dalam melihat masa depan.

Photo: Unsplash/Steve Knutson

Tubagus Ali Ibrahim

Seorang mahasiswa sejarah yang justru tertarik ilmu politik, seseorang yang masih bingung dengan tujuan hidupnya sendiri, selalu berimajinasi. Karena imajinasi adalah kunci untuk berinovasi, selamat menikmati

Rules Comment :

1. Dilarang Spam
2. Berkomentarlah yang baik
3. Dilarang menggunakan kata komentar dengan kata kasar atau sebagainya
4. Harap untuk tidak menyebarkan link yang membuat spam, rusuh. unsur porno, sara, dan sebangsanya
5. Komentar harus sesuai dengan isi artikel

*Jika ingin bertanya di luar topik, silahkan klik menu Off Topic