MASIGNASUKAv101
513548225817861431

Ospek Militeristik Dapat Melatih Mental? Begini Kata 'Psikolog Asli'

Ospek Militeristik Dapat Melatih Mental? Begini Kata 'Psikolog Asli'
Add Comments
23/09/20


   Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan cuplikan video maba (mahasiswa baru) yang dibentak-bentak oleh senior kampusnya. Video viral yang tersebar di beragam media sosial tersebut diketahui terjadi saat acara ospek yang digelar secara virtual oleh FIP (Fakultas Ilmu Pendidikan) UNESA(9/9).

Para senior secara bergiliran tampak memarahi maba dengan nada tinggi; mempertanyakan di mana ikat pinggangnya. Netizen ramai-ramai menyayangkan kejadian tersebut. Hal ini terlihat kontradiktif, karena tidak sesuai mencerminkan nama fakultas, dan tidak sedikit pula netizen yang bertanya di mana letak nilai pendidikan dan esensinya?

Kejadian semacam itu berulang setiap tahun di acara yang sama, meski perlahan ada pula kampus yang mulai meninggalkan ospek militeristik tersebut. Dalih "melatih mental", persahabatan, atau sejenisnya dijadikan sebagai pembenaran.

Tak lama setelah viralnya video ospek FIP UNESA, muncul kemudian kasus yang serupa, namun kali ini lebih 'kasar' lagi. Digelar sama secara online, seorang maba Fakultas Teknik Universitas Bengkulu (15/9) disuruh mencoretkan seluruh wajahnya menggunakan lipstik oleh para senior sembari membentak-bentak.

Lingkaran setan
Sebetulnya ditinjau dari sisi psikologis, hal itu sangat tidak dibenarkan. Apa dasarnya kalau ospek dengan cara seperti itu menjadikan mental lebih kuat? Padahal, sekelas psikolog saja tidak membenarkan klaim itu. Akhirnya, timbul semacam lingkaran setan berupa dendam yang tak terbalaskan; melanjutkan tradisi untuk terus 'bergantian' dengan cara yang sama, setiap tahunnya.

Ospek yang menampilkan superioritas dengan kekerasan verbal tidak bisa membantu mendisiplinkan maba. Senada dengan hal ini, Dra. Ratna Djuwita, Dipl. Psych berkata bahwa, "Nanti mereka (maba -red) ketika status sosialnya naik, jadi kakak tingkat, membalas itu karena diperlakukan seperti itu dengan rasionalisasi akan membuat tegar, kreatif, kompak, "ujar Ratna, dikutip dari laman detik.

"Di dunia pendidikan luar negeri, hal seperti ini enggak ada, tapi mereka bisa tetap berprestasi,  " ia melanjutkan. Ratna mengatakan program orientasi pengenalan kampus seharusnya membantu maba mengenali kehidupan kampus. Para senior seharusnya bisa mengajarkan hal-hal yang akan dibutuhkan kelak seperti misalnya bagaimana berpikir kritis atau mencari informasi di perpustakaan.

"Kalaupun mau bikin games yang aneh-aneh, diharapkan justru respons yang memancing kreativitas dan harusnya fun (menyenangkan) gitu. Belajar karena fun itu jauh lebih efektif daripada belajar karena takut," ujar Ratna.

Tidak mudah mengubah mental
Mengharapkan maba dapat terlatih menjadi kuat mentalnya dalam waktu singkat dengan cara seperti itu adalah sebuah fatamorgana. Seorang psikolog dari University of California, Bleidorn mengatakan bahwa memang kemungkinan kepribadian seseorang dapat berubah seiring fase perkembangan kehidupan. Namun, hanya peristiwa yang berarti yang akan berdampak pada perubahan dan perilaku seseorang.

Apakah semua punya kepribadian yang sama dan menjadikan mental mereka kuat? Tentu saja tidak. Intimidasi yang mereka terima bahkan di beberapa kasus membuat mereka menjadi trauma, dendam, dan dampak negatif lainnya. Setiap orang memiliki kepribadian dengan kompleksitasnya masing-masing. Kegiatan ospek sudah seharusnya dilakukan lebih positif, kreatif, dan tentu mempertimbangkan kembali esensinya.

Psikolog R Yuli Budirahayu juga memberi pandangan soal ospek militeristik, "Terkadang, kalau senior melakukan bentakan, hal itu karena mereka pernah mengalami sebelumnya, ketika saat ini menjadi senior. Ada anggapan bisa melakukan hal yang sama ke juniornya," ujarnya, dilansir dari tribunnews.

"Bentakan atau kekerasan verbal itu memang bisa memberikan dampak, terutama orang yang sensitif atau tidak biasa menerima bentakan," lanjutnya.


Ospek warisan kolonial
Pernah mendengar kalimat semacam ini?: "Ini gak seberapa dek, zaman kami lebih keras!" Jika pernah, kalimat tersebut juga dijadikan senjata pembenaran. Jika argumen itu terus dipakai, maka sampai berlanjut ke masa rodi atau romusha yang jelas sangat berat. Faktanya memang, ospek sudah ada sejak era kolonial Belanda; ketika waktu itu pribumi yang sekolah di STOVIA (pendidikan kedokteran Hindia Belanda) diospek dengan kekerasan oleh anak-anak Belanda.

Lalu, terus berlanjut pada masa pendudukan Jepang, bahkan lebih kejam. Maka, tidak salah jika mengatakan bahwa ospek militeristik adalah budaya kolonial yang sudah seharusnya tidak kita gunakan lagi saat ini dan pada masa mendatang.

Hamid A.

Seorang mahasiswa biasa yang hidup di tanah perantauan demi tugas yang mulia yaitu mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Membaca dan menulis adalah hal yang biasanya aku lakukan ketika waktu luang.

Rules Comment :

1. Dilarang Spam
2. Berkomentarlah yang baik
3. Dilarang menggunakan kata komentar dengan kata kasar atau sebagainya
4. Harap untuk tidak menyebarkan link yang membuat spam, rusuh. unsur porno, sara, dan sebangsanya
5. Komentar harus sesuai dengan isi artikel

*Jika ingin bertanya di luar topik, silahkan klik menu Off Topic