MASIGNASUKAv101
513548225817861431

Para Wanita yang Pernah Membuat Tan Malaka Jatuh Cinta

Para Wanita yang Pernah Membuat Tan Malaka Jatuh Cinta
Add Comments
04/06/20


   Tan Malaka merupakan seorang Pahlawan Indonesia yang amat besar jasanya. Keputusan Presiden RI No. 53 tahun 1963 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada 28 Maret 1963 menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional. Nama lengkapnya adalah Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Ia lahir pada 2 Juni 1897 di Pandan Gadang, Sumatera Barat.

Gagasan kebangsaan yang diectuskan Tan Malaka dapat ditemukan di buku-bukunya. Sama seperti tokoh lainnya, ia tidak hanya pandai berorasi, namun memiliki kecakapan menulis. Bahkan, Tan Malaka bisa dibilang sebagai konseptor negara Indonesia yang berbentuk Republik, lewat bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia).

Buku yang diterbitkan pada tahun 1925 tersebut adalah salah satu dari sederet karya Tan Malaka yang banyak memengaruhi pemikiran tokoh-tokoh lainnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tokoh yang dikenal sangat revolusioner ini hidup dalam pengasingan kira-kira selama 20 tahun; buronan intel banyak negara. Walaupun sibuk berkelana dan memperjuangkan nasib bangsanya, Tan Malaka sebagai pria normal juga pernah mengalami masa indah jatuh cinta kepada wanita,

Cinta pertama 
Kisah cinta seorang pejuang kemerdekaan sangat menarik untuk disimak, dan pastinya melahirkan cerita-cerita yang dramatis. Karena di satu sisi mereka harus memprioritaskan kemerdekaan negara, di sisi lain mereka juga harus memperjuangkan cintanya. Wanita pertama yang berhasil memikat hati Tan Malaka bernama Syarifah Nawawi, teman satu sekolahnya di Kweekschool Bukittinggi.

Tan Malaka mulai rajin mengirimkan surat kepada Syarifah saat sedang sekolah di Belanda. Hanya saja, Tan Malaka harus menerima kenyataan bahwa cinta pertamanya bertepuk sebelah tangan. Syarifah Nawawi tidak pernah membalas surat-surat yang dikirimkannya. Suatu ketika, Tan Malaka mengetahui kabar menikahnya gadis yang dicintainya tersebut dengan Bupati Cianjur, RAA Wiranatakusumah.

Rasa kecewa tentu timbul di hati Tan Malaka. Hal yang tak kalah menyakitkan bagi Tan Malaka adalah gadis incarannya itu dicerai begitu saja pada tahun 1924 karena dianggap tidak dapat mengikuti adat dan tata krama Sunda waktu itu. Konon, karena peristiwa itulah membuat Tan Malaka menjadi komunis dan begitu membenci kaum feodal.

Gadis Belanda, Fenny Struijvenberg
Fenny Struijvenberg adalah seorang mahasiswi kedokteran berkebangsaan Belanda yang dikabarkan memiliki kedekatan dengan Tan Malaka. Namun, menurut Harry A. Poeze, sejarawan Belanda yang meneliti Tan Malaka selama hampir setengah abad, menganggap bahwa sebenarnya tidak jelas apakah mereka benar-benar menjalin hubungan sebagai kekasih atau tidak.

Adam Malik dalam bukunya bertajuk Mengabdi Kepada Republik, pernah bertanya kepada Tan Malaka apakah ia pernah jatuh cinta. "Sekali di Belanda, sekali di Filipina, dan sekali di Indonesia. Tapi semua itu katakanlah hanya cinta yang tak sampai, perhatian saya selalu besar untuk perjuangan," demikian jawab Tan Malaka.

Berdasarkan pengakuan tersebut, dapat kita pahami bahwa Tan Malaka sepertinya mencintai Fenny. Di sisi lain, konon Fenny juga sering berkunjung ke tempat Tan Malaka tinggal, tentu saja bukan tanpa alasan. Keberadaan Fenny bisa dibilang menjadi pengisi hari-hari Tan Malaka di tengah dinginnya negeri Belanda. Meskipun pada akhirnya kisah cinta mereka kandas.

Gadis Filipina, Nona Carmen
Tan Malaka singgah ke Filipina pada tahun 1927 dengan nama samaran Elias Fuentes. Dikutip dari bukunya Dari Penjara ke Penjara, Nona Carmen merupakan putri Rektor Universitas Manila. Wanita itulah yang banyak mengajari Tan Malaka bahasa Tagalog dan juga memberikan segudang informasi mengenai cara keluar masuk Filipina dengan aman.

Ketika pelariannya ke Manila, kondisi kesehatan Tan Malaka memang sedang menurun. Dalam masa sakitnya itu Tan Malaka menginap di rumah Carmen guna memulihkan kesehatannya sembari menulis secara teratur di harian El Debate. Terbiasa bertemu setiap saat barangkali menjadi sebab tumbuhnya cinta di antara mereka. Selama di rumahnya, Nona Carmen turut membantu merawat Tan Malaka.

Sebagian pendapat mengatakan Nona Carmen juga memiliki pemikiran yang sama dengan Tan Malaka. Membantu Tan Malaka hal yang sangat beresiko bagi Carmen. Cinta adalah alasan rasional yang membuat wanita Filipina ini begitu banyak membantu Tan Malaka. Akan tetapi, kisah cinta mereka tak berumur lama, Tan Malaka ditangkap intelijen Amerika Serikat, lalu diadili di Manila. Hasil keputusan sidang menyebabkan Tan Malaka dideportasi dari Filipina.

Gadis Tiongkok, "AP"
Selepas dideportasi dari Filipina, Tan Malaka pergi ke Tiongkok. Dia menghabiskan waktunya selama tiga tahun di sana dengan nama samaran Ong Song Lee. Tan Malaka sempat dipenjara selama dua bulan karena ketahuan agen rahasia Inggris. Setelah itu, ia berangkat menuju kota Xiamen, pesisir tenggara Tiongkok. Ia lalu mendirikan sekolah bernama Foreign Language School dan mengajar bahasa Inggris.

Di sela aktivitasnya, Tan Malaka bertemu dengan gadis Xiamen dengan inisial "AP". Gadis tersebut tidak jarang menjumpai Tan Malaka di sekolah yang didirikannya. Kisah cinta Tan Malaka yang satu ini terjadi antara guru dengan murid. AP menjadi murid Tan Malaka, tak sebagai guru, Tan Malaka juga dijadikan tempat curhat olehnya.

Berjalannya waktu, benih-benih cinta pun tumbuh. Namun seperti kisah cinta yang sebelumnya, ikatan cinta di antara mereka tak berlangsung lama. Tan Malaka harus keluar dari Xiamen pada tahun 1937. Ia harus meninggalkan negeri yang memperkenalkannya dengan gadis yang mungkin saja dicintainya. 

Jatuh cinta untuk yang terakhir
Pada 1942, Tan Malaka baru bisa kembali ke Indonesia setelah sekian lama berada di pengasingan negeri orang. Tan Malaka mulai mengunjungi teman-teman lamanya, salah satunya ke tempat kediaman Ahmad Soebarjo. Di rumah sahabatnya itu Tan Malaka merasakan cinta kembali. Di sana ia bertemu dengan Jo Paramita Abdurrachman yang merupakan keponakan dari Ahmad Soebardjo.

Paramita yang pada waktu itu berumur 25 tahun, memperkenalkan dirinya kepada Tan Malaka sebagai tetangganya yang tinggal di halaman rumah Soebardjo. Mereka pun beberapa kali sempat berbincang-bincang. Di rumah sahabatnya, Paramita memperlihatkan keterampilannya bermain piano. Tan Malaka begitu senang mendengarkannya, terutama ketika memainkan karya Schubert.

Namun, antara Tan Malaka dan Paramita terdapat satu hal yang tidak sejalan. Ketika Paramita ingin menempuh karir di bidang musik, Tan Malaka tidak menyetujuinya. "Musik akan menuntut korban cita-cita revolusioner," ujar Tan Malaka mengutip kalimat Napoleon. Meskipun begitu, hubungan mereka semakin akrab dari waktu ke waktu.

Bahkan banyak orang mengira mereka sudah bertunangan. Dan di sisi lain, konon, Soebardjo sendiri memang ingin menjodohkan keponakannya itu dengan Tan Malaka. Pada tahun 1980-an, Paramita mengakui bahwa dirinya mencintai Tan Malaka, ketika diwawancarai oleh Harry A. Poeze. Sayangnya, cinta itu tidak mengantarkan mereka ke jenjang pernikahan.

Demikian lika-liku kisah perjalanan kisah cinta Tan Malaka. Rasa cinta Tan Malaka kepada negaranya melebihi rasa cintanya terhadap beberapa wanita yang ia temui di berbagai negara. Tan Malaka tidak pernah menikah semasa hidupnya, sebagaimana pengakuannya, dikutip dari SK Trimurti, pernikahan akan membelokannya dari perjuangan. Tan Malaka meninggal ditembak pada 1949, sedangkan Paramita meninggal pada 1988. Keduanya meninggal dalam keadaan masih melajang.

Referensi:
Munir, Syafruddin. 2019. Tan Malaka: Kisah Cinta dan Pemikiran-Pemikirannya. Yogyakarta: Araska.
Poeze, Harry. 2008. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: Jilid 1 Agustus 1945-Maret 1946. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 

Hamid A.

Seorang mahasiswa biasa yang hidup di tanah perantauan demi tugas yang mulia yaitu mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Membaca dan menulis adalah hal yang biasanya aku lakukan ketika waktu luang.

Rules Comment :

1. Dilarang Spam
2. Berkomentarlah yang baik
3. Dilarang menggunakan kata komentar dengan kata kasar atau sebagainya
4. Harap untuk tidak menyebarkan link yang membuat spam, rusuh. unsur porno, sara, dan sebangsanya
5. Komentar harus sesuai dengan isi artikel

*Jika ingin bertanya di luar topik, silahkan klik menu Off Topic