MASIGNASUKAv101
513548225817861431

William Shakespeare, Seorang Pujangga yang Misterius

William Shakespeare, Seorang Pujangga yang Misterius
Add Comments
15/05/20


   Stratford-upon-Avon, Britania Raya adalah tempat Shakespeare lahir ke dunia. Akan tetapi mengenai kapan William Shakespeare sebenarnya lahir ada beragam versi, sebagian pendapat mengatakan bahwa ia lahir pada 23 April 1564, sedangkan pendapat lain mengatakan tanggal 21 atau 22 April. Tidak ada yang tahu secara pasti kapan Shakespeare lahir.

Namun, Peter Ackroyd menulis dalam bukunya yang berjudul Shakespeare: The Biography, tanggal pembaptisan Shakespeare persis diketahui, tidak seperti tanggal lahirnya, ia dibaptis di Church of The Holy Trinity di Stratford, pada 26 April 1564. Shakespeare terdaftar di gereja dengan nama "Guilelmus Filius Johannes Shakespeare" (hlm. 3).
Shakespeare's Birthplace | Doc. photo by Chris Hepburn/Getty Images
Pendidikan dan kehidupan
William Shakespeare lahir dari pasangan John Shakespeare dan Mary Arden. Fase tumbuhnya Shakespeare dari masa kecil menuju remaja sulit diketahui, karena keterbatasan catatan konkret. Namun, ia diketahui bersekolah di King's New School di Stratford, sebuah sekolah gratis yang didirkan pada tahun 1553 pada masa kepemimpinan Ratu Elizabeth I. 

Peter Ackroyd juga menjelaskan dalam bukunya bahwa kurikulum pendidikan di sekolah Stratford didasarkan pada landasan melalui tata bahasa latin dan retorika, ditanamkan melalui seni membaca, menghafal, dan menulis (hlm. 57).

Dilansir dari buku William Shakespeare: A Compact Documentary Life, karya Samuel Schoenbaum, kurangnya bukti dokumen menyebabkan tidak ada yang tahu berapa lama Shakespeare belajar di sana. Sebuah laporan dari awal abad ke-18 menyatakan bahwa ia tidak menyelesaikan kursusnya (hlm. 73). 

Setelah itu, Shakespeare pun ikut bisnis dengan ayahnya yang merupakan seorang tukang daging. Di sela-sela kesibukan bekerja di tokoh ayahnya selama musim panas 1582, ia bertemu dengan Anne Hathaway, seorang anak petani yang tinggal 1 mil di barat dari rumahnya. Pada bulan November mereka kemudian resmi menikah (hlm. 74-75).

Pernikahan tersebut tampaknya berlangsung dengan tergesa-gesa karena Anne Hathaway hamil duluan. Seperti yang dikutip dari laman history, Shakespeare yang saat itu berusia 18 tahun menikahi Anna Hathaway yang berusia 26 tahun. Putri pertama mereka, Susanna, lahir setelah enam bulan pernikahan. Shakespeare dan Anna dikaruniai anak kembar bernama Hamnet dan Judith pada tahun 1585. Tak lama kemudian, satu-satunya anak laki-laki mereka, Hamnet, meninggal dunia ketika berusia 11 tahun. 
Shakespeare and His Contemporaries | Doc. image by wikimedia.org
Buah Karya
Beberapa tahun pasca menikah, Shakespeare merantau ke London untuk memulai petualangannya menjadi penulis drama dan aktor. Mungkin Hampir semua orang tahu tentang kisah cinta tragis Romeo dan Juliet, kisah sepasang anak muda yang saling jatuh cinta namun terhalang oleh restu orang tua tersebut merupakan satu dari banyak karya yang dikarang oleh Shakespeare yang masyhur hingga kini.

Karya lainnya berjudul "Macbeth", berkisah tentang ambisi seseorang untuk menjadi Raja dengan menempuh segala cara. Naskah "Hamlet" yang menceritakan tentang upaya balas dendam seorang pangeran kepada pamannya karena telah merebut tahta kerajaan dengan membunuh ayahnya serta menikahi ibunya. 

Konon, yang melatarbelakangi Shakespeare menulis naskahnya yang berjudul "The Tragical History of Hamlet, Prince Denmark" adalah karena kematian anaknya yaitu Hamnet. Banyak orang berspekulasi seperti itu karena nama Hamlet dan Hamnet yang hampir mirip (Ning Winarsih, Lima Tokoh Dunia Sastra, 2015: 13)

Beberapa judul karya yang disebutkan tadi hanyalah sedikit dari banyak mahakarya yang diciptakan oleh Shakespeare. Dikutip dari laman biography, selama dua dekade antara tahun 1590 hingga 1613, Shakespeare menulis total 37 drama dengan tema sejarah, komedi, tragedi, dan tragikomedi. Ia tidak hanya dikenal sebagai seorang pujangga yang pandai menulis, tapi ia juga seorang dramawan dan aktor. Karena itu ia juga beberapa kali ikut serta bermain peran dalam drama yang ditulisnya.

Ning Winarsih menyebutkan dalam bukunya, ketika menginjak usia 40 tahun, Shakespeare sudah menciptakan karya-karya monumental seperti Orthello, King Lear, Julius Caesar, dan lain-lain. Kepiawaian Shakespeare dalam merangkai kalimat, banyak dikutip oleh orang lain, dan karya-karya yang dihasilkan juga disanjung banyak orang, termasuk oleh Ratu Elizabeth I.

Sang Ratu Inggris menjadi tamu tetap dan menghadiri setiap kali diadakan pementasan karya-karya William Shakespeare. Hal demikian juga dilakukan oleh Raja James I, sang penerus tahta Ratu Elizabeth I tersebut tidak hanya menyanjung Shakespeare, bahkan ia kerap mengundang Shakespeare ke istana untuk mementaskan sandiwaranya (hlm. 14).

Seperti yang dilansir dari lama biography, pada awal 1590-an, Shakespeare tergabung dalam Lord Chamberlain;s Men, sebuah perusahaan akting di London yang terhubung dengan sebagian besar karirnya. Karena dianggap sebagai kelompok paling penting pada masanya, perusahaan mengubah namanya menjadi King's Men setelah penobatan Raja James I pada 1603. Lewat perusahaan itu, karya-karya Shakespeare diterbitkan dan dijual sebagai literaur populer.

Berjalannya waktu, karir William Shakespeare makin melejit. Pada 1599, bersama mitra bisnisnya, mereka membangun gedung teater sendiri yang dinamakan "Teater Globe" di tepi selatan sungai Thames. Menjelang masa akhir hidupnya, ia kembali ke kota kelahirannya, Stratford. Sebelum itu ia berinvestasi dengan membeli real estate di Stratford dengan harga 440 pounds. Hal ini menjadikannya pengusaha sekaligus seniman.
Statue of William Shakespeare at the Centre Leicester Square | Doc. photo by wikimedia.org
Kontroversi profil Shakespeare
Shakespeare meninggal pada 23 April 1616 ketika berusia 52 tahun dan dimakamkan di Holy Trinity Church, Stratford. Kematian Shakespeare banyak memicu beragam pertanyaan hingga ada yang meragukan keaslian William Shakespeare sendiri: apakah Shakesepeare benar-benar ada?, atau bagaimana mungkin orang yang tidak tamat sekolah ditambah pula tidak mengenyam bangku kuliah bisa menjadi pujangga besar?.

Masih dikutip dari laman biography, penyebab munculnya beragam kritikan dari kelompok tertentu karena kelangkaan sumber-sumber primer kontemporer. Pemerintah Stratford hanya mencatat keberadaan Shakespeare, tetapi tidak ada bukti yang mencatatnya sebagai seorang penulis drama atau aktor terkenal.

Mark Twain mencatat keadaan ketika pria asal Stratford itu meninggal dunia, ia heran kematian Shakespeare tidak menggemparkan publik Inggris, tidak ada acara penghormatan melepas kepergian sastrawan besar tersebut, tidak ada puisi ratapan, yang ada hanya keheningan. Perbedaan sangat mencolok dengan apa yang terjadi ketika Ben Jonson, Francis Bacon, Spenser, dan sastrawan terkenal lainnya dari zaman Shakespeare meninggalkan kehidupan.

Di antara kelompok yang meragukan 'keaslian' William Shakespeare adalah dari "Members of The Oxford Society" yang didirikan pada tahun 1957. Mereka meyakini bahwa seorang aristokrat dan penyair asal Inggris yang mempunyai perusahaan teater sendiri bernama Edward de Vere, adalah penulis asli puisi dan drama Shakespeare. 

Mereka beralasan Edward de Vere memiliki pengetahuan yang luas dan persamaan struktural antara puisinya dengan karya-karya yang dikaitkan dengan Shakespeare. Kandidat lainnya yang dikaitkan sebagai William Shakespeare adalah seorang negarawan dan filsuf yaitu Sir Francis Bacon. Banyak juga nama lain yang dikaitkan yaitu Christopher Marlowe dan Mary Sindey Herbert.

Akhirnya, tidak sedikit orang yang percaya bahwa "pria Stratford" itu penulis asli drama Shakespeare. William Rubinstein dalam History Today menulis, "Orang pertama yang secara eksplisit percaya bahwa karya-karya Shakespeare ditulis oleh orang lain adalah James Wilmot (1726-1808), seorang pendeta Warwickshire yang tinggal di dekat Stratford. 

William Rubinstein menambahkan, "Keraguan Wilmot timbul karena ketidakmampuannya menemukan buku tunggal milik Shakespeare, meskipun mencari di setiap perpustakaan pribadi lama dalam radius lima puluh mil dari Stratford. Dia juga tidak dapat menemukan anekdot otentik tentang Shakespeare di sekitar Stratford.

Namun, semua skeptis tersebut dapat dibantah. Pria Startford tersebut bukanlah seorang bangsawan yang menyebabkan sulitnya menemukan bukti otentik secara berurutan mengenai kisah hidupnya. Ia mampu menjaga secara terpisah anatar kehidupannya di London sebagai sastrawan dan kehidupannya di Stratford sebagai seorang pengusaha sukses. Tidak sedikit pula sastrawan di zamannya yang samar dalam kehidupan pribadinya.

Meskipun banyak yang meragukan pria Statford itu sebagai William Shakespeare asli, Rubinstein mengakui dalam tulisannya, "dan beberapa rekan yang hidup sezamannya, yang paling jelas Ben Jonson, tampaknya telah menganggap pria Stratford itu menulisnya (dramanya sendiri)."

Yang jelas, tulisan-tulisan Shakespeare sangat dikagumi hingga masa kini. Sama seperti tokoh lainnya yang hidup di zaman Renaisans; yang banyak menyumbangkan pemikiran-pemikiran brilian, Shakespeare begitu pula, lewat karyanya, ia akan terus selalu diingat oleh sejarah sebagai tokoh yang berjasa di bidang sastra.

Hamid A.

Seorang mahasiswa biasa yang hidup di tanah perantauan demi tugas yang mulia yaitu mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Membaca dan menulis adalah hal yang biasanya aku lakukan ketika waktu luang.

Rules Comment :

1. Dilarang Spam
2. Berkomentarlah yang baik
3. Dilarang menggunakan kata komentar dengan kata kasar atau sebagainya
4. Harap untuk tidak menyebarkan link yang membuat spam, rusuh. unsur porno, sara, dan sebangsanya
5. Komentar harus sesuai dengan isi artikel

*Jika ingin bertanya di luar topik, silahkan klik menu Off Topic