MASIGNASUKAv101
513548225817861431

Munculnya Covidiot, 'Penyakit' yang Harus Dihadapi Selain COVID-19

Munculnya Covidiot, 'Penyakit' yang Harus Dihadapi Selain COVID-19
Add Comments
22/05/20


   Pandemi COVID-19 yang tengah melanda dunia mengakibatkan negara-negara yang terdampak susah payah memeranginya, akhirnya timbul krisis di berbagai bidang. Mulai dari sektor ekonomi yang lumpuh, sektor pariwisata yang sepi, sampai krisis akhlak yang menjadi penyakit sosial. Akan tetapi, bagaiamana bisa virus corona menyebabkan krisis akhlak?.

Krisis akhlak yang terjadi sebenarnya bukan secara langsung akibat dari COVID-19 itu sendiri, namun berasal dari tidak adanya kesadaran individu terhadap bahaya virus corona yang mengancam. Padahal Pemerintah sudah berupaya menekan penyebaran virus corona, salah satu aturannya yaitu penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar di setiap daerah).

Tak heran, banyak pihak yang kesal terhadap orang yang tidak mengindahkan protokol keamanan COVID-19. Perilakunya yang egois tidak hanya membahayakan dirinya sendiri, tetapi juga orang lain, hingga muncul sebutan baru untuk mereka, yaitu "Covidiot. Covidiot terbentuk dari dua kata yaitu "covid" dan "idiot". 

Dikutip dari urbandictionary, covidiot adalah seseorang yang mengabaikan peringatan tentang kesehatan dan keselamatan publik; meremehkan permasalahan virus corona; menimbun kebutuhan pokok; melanggar social distancing; berkerumunan; melakukan tindakan yang berpotensi menyebarkan virus corona ke orang lain, dan sebagainya. 
Kerumunan massa menyaksikan penutupan McD Sarinah | Doc photo by Satpol PP DKI
Kerumunan massa di McD Sarinah
Tindakan covidiot juga dapat ditemukan di Indonesia, bisa dilihat apa yang terjadi di Jakarta (10/05/2020). Kejadiannya, banyak warga di sana yang menyaksikan penutupan McD Sarinah dengan berkerumunan. Hal ini tentu melanggar protokol pemerintah mengenai PSBB, padahal di Jakarta sendiri sampai saat ini merupakan daerah dengan kasus virus corona terbanyak di Indonesia. 

Tak butuh waktu lama, Satpol PP DKI langsung membubarkan seremoni yang terjadi pada pukul 22:00 WIB tersebut. Meskipun dari pihak McD Sarinah mengaku tidak mengundang 'tamu', tapi tetap saja dinilai salah dan melanggar. Akhirnya dikenai denda sebesar Rp. 10.000.000 karena melanggar Peraturan Gubernur Nomor 33 tahun 2020.

Kelakuan konyol selebgram
Contoh lain tentang perilaku covidiot baru terjadi akhir-akhir ini, adalah pernyataan dari pemilik akun Instgram dengan 1,5 juta pengikut yaitu Indira Kalistha di youtube Gritte Agatha (13/05/2020). Konten yang mengusung konsep podcast tersebut menjadi viral karena apa yang disampaikannya meremehkan virus corona dan protokol kesehatan. Di dalam video yang sudah dihapus tersebut, Indira menceritakan kegiatan sehari-harinya di tengah pandemi.

Di antaranya ia mengaku tidak menggunakan masker saat beraktivitas ke luar, tidak rajin cuci tangan, dan pernyataan lain yang dianggap bodoh. Sejurus kemudian, netizen menyebutnya sebagai covidiot dan menghujatnya habis-habisan. Sebagai public figure seharusnya tidak membuat kontroversial di tengah situasi sulit sekarang.

Tak lama setelah itu, Indira yang juga menghadiri seremoni penutupan McD Sarinah tersebut meminta ma'af sambil menangis di konten Youtube Deddy Corbuzier (17/05/2020). Namun, pernyataannya dan mimik wajahnya yang meremehkan situasi pandemi COVID-19 terlanjur membuat marah berbagai pihak, salah satunya dari dr. Ali Haedar.

Dokter spesialis yang sekaligus seorang Dosen Fakultas Kedokteran di Universitas Brawijaya tersebut menyayangkan pernyataan Indira yang tidak mengedukasi masyarakat dan tidak peduli dengan protokol keamanan COVID-19. Untuk itu Ali menilai masyarakat perlu mengenal istilah covidiot.

"Mungkin, seleksi alam di Indonesia karena COVID-19 akan menyebabkan 'yang bodoh, yang akan punah', dalam artian orang yang egois tak memperhatikan protokol kesehatan COVID-19. Kita sebagai masyarakat modern lebih sulit menghindari transmisi informasi lewat media sosial," kata Dokter spesialis Emergency Medicine (EM) di RS Saiful Anwar ini, sebagaimana dikutip dari medcom.

Gejala Covidiot
Dokter Ali juga menambahkan, ada lima tanda covidiot, yakni mereka biasanya secara sadar tampak sering melakukannya. Mulai dari menyebarkan berita yang tidak benar terkait COVID-19, melakukan perkerumunan atau menginisiasi kegiatan perkerumunan. Kemudian melakukan kegiatan travelling dengan tujuan piknik, menolak isolasi diri setelah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit atau setelah dinyatakan OTG (Orang Tanpa Gejala), (ODP) Orang Dalam Pemantauan, PDP (Pasien Dalam Pengawasan), dan membanggakan kekebalan tubuhnya. 

Para covidiot seakan tidak punya rasa empati terhadap tenaga medis, aparatus, dan elemen-elemen lain yang berjuang di garis depan melawan corona. Masalahnya para covidiot berpotensi menularkan virus corona ke orang lain, karena dirinya tidak sadar apakah sudah terinfeksi ditambah lagi menganggap enteng virus yang sudah menelan banyak korban itu. 

Sepertinya untuk menimbulkan efek jera, para covidiot seharusnya ditindak tegas dengan mengirimnya menjadi relawan garis depan memerangi virus corona, seperti membantu tenaga medis, dan lain sebagainya. Agar, penderitaan karena virus corona ini tidak berlangsung lama.

Hamid A.

Mahasiswa hukum yang hidup berkelana di tanah perantauan. Tertarik dengan bidang ilmu filsafat, psikologi, sejarah, dan bidang apa saja, kecuali matematika.

Rules Comment :

1. Dilarang Spam
2. Berkomentarlah yang baik
3. Dilarang menggunakan kata komentar dengan kata kasar atau sebagainya
4. Harap untuk tidak menyebarkan link yang membuat spam, rusuh. unsur porno, sara, dan sebangsanya
5. Komentar harus sesuai dengan isi artikel

*Jika ingin bertanya di luar topik, silahkan klik menu Off Topic