MASIGNASUKAv101
513548225817861431

Pengaruh Benito Mussolini terhadap Rasisme di Sepakbola Italia

Pengaruh Benito Mussolini terhadap Rasisme di Sepakbola Italia
Add Comments
27/12/19


   Pemain sepakbola dapat berganti klub apabila bursa transfer pemain sampai pada waktunya. Bursa transfer pemain sepakbola eropa dibagi atas dua waktu, yaitu musim panas dan dingin. Ketika bursa transfer pemain dibuka, banyak klub bersaing untuk mendapatkan pemain yang sudah diincar sebelumnya, berbagai macam cara dilakukan untuk meyakinkan pemain agar bersedia bergabung. Mulai dari menjanjikan gaji yang tinggi, bonus setiap mencetak goal, hadiah barang mewah, trofi piala, dan lain sebagainya. 

Untuk itu, sudah menjadi hal yang biasa apabila pemain sepakbola bergonta-ganti klub. Namun, pemain sepakbola yang hijrah ke liga Italia yang memiliki tampilan fisik yang 'berbeda' dari orang eropa pada umumnya harus menyiapkan mental yang lebih dari biasanya. 

Karena jika bicara soal sepakbola di 'Negeri Pizza', maka tak lepas dengan yang namanya kasus rasisme yang banyak terjadi. Selain dikenal memiliki pemain-pemain yang hebat, sepakbola Italia juga dikenal akan tindakan pendukung sepakbolanya yang rasis, apalagi dari fans garis keras hampir setiap klub.
Doc. image by GOAL
Tindakan rasial yang dialami pemain sepakbola memang ada di setiap negara, namun porsinya berbeda terhadap apa yang terjadi di Italia. Kejadian baru-baru ini menimpa pemain Inter yang berposisi sebagai penyerang yaitu Lukaku. Pemain yang baru diboyong dari Manchester United tersebut mendapatkan ujaran rasis yang dialamatkan kepadanya dari majalah media Italia yaitu Corriere dello Sport pada Kamis (5/12/2019). 

Yang membuat majalah tersebut kontroversial dan dikecam banyak orang ialah diksi pada judul berita yang bertajuk "Black Friday" ditambah menampilkan gambar Lukaku dan Smalling yang menjadi sampul halaman depan.

Tak hanya itu saja, Lukaku sudah beberapa kali mendapatkan perilaku rasial beberapa waktu lalu. Pertama kali striker anyar Inter Milan tersebut mendapatkan sorakan bernada rasial dari fans Cagliari saat membela Inter di Stadion Sardegna Arena pada Ahad (31/8). Namun reaksi yang datang dari Ultras Inter bukannya malah memberi dukungan moral kepada sang pemain, tetapi memberikan pernyataan yang seolah membenarkan apa yang dilakukan oleh fans Cagliari.

Dari pihak federasi sepakbola Italia (FIGC) seakan tutup mata atas kejadian tersebut - tidak memberikan sanksi kepada Cagliari saat pendukungnya melakukan tindakan rasial kepada Lukaku. Hal ini membuat banyak orang menayakan keputusan tegas FIGC yang tak kunjung datang, dan berspekulasi  FIGC membiarkan rasisme tetap tumbuh subur di sepakbola Italia.

Keputusan konyol lainnya dari FIGC ialah memberikan denda kepada mantan penyerang Juventus yaitu Moise Kean pada April 2019 sebanyak dua ribu euro dengan dalih si pemain tidak menunjukkan pose menghormati pendukung, padahal yang seharusnya diberikan sanksi adalah fans Cagliari yang bertindak rasial kepada Kean, bukan malah korban rasisme yang dihukum. Banyak orang menilai keputusan tersebut menandakan FIGC tak serius memerangi rasisme dan seakan malah membuat sepakbola Italia semakin tercoreng noda hitam yang semakin pekat akan rasisme.

Franck Kessie, Dalbert Henrique, Matuidi, Balotelli, Koulibaly, dan deretan pemain lain yang memiliki fisik serupa seringkali mendapatkan perlakuan rasisme di sepakbola Italia. Observatory on Racism in Football (ORAC) mencatat, terdapat 249 insiden rasis selama tahun 2011-2016 di stadion sepakbola Italia, dan pada tahun 2017-2018 sendiri, ORAC menghitung setidaknya ada 60 insiden rasis. Kenyataannya rasisme tidak hanya dilakukan oleh para ultras klub, tetapi juga menembus ke institusi yang mengatur sepakbola Italia.

Contohnya seperti yang dilakukan oleh Carlo Tavecchio, mantan Presiden FIGC. Pada Juli 2014 selama kampanye pemilihan Presiden, ia mengkritik banyaknya pemain asing yang bermain di klub profesional, "merujuk pada pemain yang sebelumnya makan pisang" tiba-tiba menjadi pemain utama. Meskipun pernyataan rasisnya terang-terangan, ia terpilih sebagai Presiden FIGC, dan otoritas sepakbola Italia membersihkannya dari kesalahan tersebut.

Jika ditelisik lebih dalam mengapa rasisme mengakar begitu kuat di sepakbola Italia ialah bisa dilihat dari sejarahnya sendiri. Rasisme tumbuh salah satunya karena dampak dari adanya fasisme. Benito Mussolini adalah tokoh yang berpengaruh terhadap merambatnya rasisme di Italia.

Tokoh dengan ideologi fasis yang dekat dengan Adolf Hitler ini tercatat dalam sejarah pernah menjadi pemimpin Italia, bahkan ia pula yang menyeret Italia ke perang dunia ke-2. Selama ia memimpin tak sedikit kebijakan yang ia tempuh secara 'radikal'.

Sejak mengambil kendali negara dari Raja Victor Emmanuel III, di era 1920-an sampai 1940-an awal, kehidupan sosial-politik masyarakat Italia banyak dipengaruhi oleh ideologi fasis. Mussolini berambisi besar untuk mengembalikan keagungan Italia dengan semangat imperium romawi. Demi mencapai impian besarnya menunjukkan kekuatan kerajaan di panggung dunia, ia harus membangun persatuan internal yang kuat.

Pasca meletusnya Perang Dunia I, Italia mengalami masa krisis, khawatir bahwa perang besar telah menunjukkan kelemahan fisik kaum pria Italia yang mengakibatkan tidak dapat membantu kekuatan yang dibutuhkan untuk membantu kerajaan fasis tumbuh.

Mussolini harus mencari solusi dari permasalahan ini, karena fokus fasisme ialah pada kekuatan kolektif atas individu dengan tujuan besar untuk meningkatkan kualitas bangsa Italia di berbagai bidang. Hal tersebut membuat Mussolini ingin melembagakan konsep I'italiano Nuovo, yaitu lelaki Italia yang telah hidup kembali yang aktif secara fisik, sehat, dan kuat.
Gli Azzurri in World Cup 1938 | Doc. photo by apnews.com
Olahraga secara umum dapat melatih fisik kaum muda, sepakbola yang merupakan olahraga paling populer di Italia oleh sang diktator dijadikan alat politik untuk mendukung gerakan nasionalisnya. Beberapa aspek sepakbola memang cocok dengan wacana fasis. 

Dari segi permainan, pemain harus mengedepankan kerjasama tim daripada individualistik, kedisiplinan, dan semacamnya. Di bawah rezim Mussolini, aspek-aspek sepakbola dilengkapi dengan pesan-pesan fasis. Secara tak langsung, sepakbola pada masa kekuasaan Mussolini memiliki hubungan yang erat dengan fasisme

Perhatian utama Mussolini adalah reformasi liga domestik dan kedalaman skuad tim nasional. Secara resmi pada tahun 1929 liga sepakbola nasional Italia yang dikenal dengan Serie A didirkan - dengan tujuan untuk menciptakan struktur yang kondusif bagi pengembangan pemain Italia. Il Duce, sebutan lain untuk Mussolini - berharap bahwa Azzurri akan siap menghadapi kejuaraan Olimpiade dan Piala Dunia dengan keyakinan bahwa setiap kemenangan di panggung global dapat meningkatkan citra Italia semakin kuat.
Italian squad won the World Cup in 1938 | Doc. photo by skysports.com
Terbukti, tim asuhan Vittorio Pozzo tersebut meraih juara piala dunia dua kali berturut-turut pada periode 1934 dan 1938, serta meraih medali emas olimpiade sepakbola pada tahun 1936. Italia pada masa itu memang memiliki pemain-pemain hebat seperti Giuseppe Meazza, Raimundo Orsi, Giovanni Ferrari, dan lain-lain. Namun, selain diisi oleh pemain-pemain berbakat, tersiar kabar bahwa Mussolini 'bermain politik' di situ.

Il Duce mendapatkan manfaat internal bagi kemenangan internasional tersebut, yaitu apabila orang-orang Italia bersatu di belakang bendera mereka karena sepakbola, maka berjalannya waktu  mereka juga akan melakukannya pada hal lain. Prestasi olahraga yang diperoleh dapat meningkatkan semangat patriotik, melahirkan semangat nasionalistik, dan membangun mentalitas kolektif hingga akhirnya menciptakan persatuan nasional yang kuat.

Benito Mussolini bisa dibilang punya andil yang cukup besar dalam pengembangan sepakbola Italia, walaupun terkadang terdapat beberapa kontroversi di dalamnya, karena ia juga membawa pesan-pesan politik ke dalam sepakbola. Itulah mengapa tidak masih banyak masyarkat Italia yang menokohkan Il Duce sebagai pahlawan. Il Duce meninggal di tiang gantung bersama istrinya pada tahun 1945, namun warisan fasisme yang ia bawa bertahan hingga kini.

Demikian pula para ultras klub yang mengklaim dirinya sebagai pendukung paling loyal juga banyak yang teridentifikasi garis kanan - yang lekat dengan neo-fasis Mussolini. Tak sulit ditemukan terkadang selain datang ke stadion untuk menonton tim kesayangannya bertanding, mereka juga menyampaikan pesan-pesan khusus yang bernada politik. 

Rivalitas klub juga sampai merambat kepada ultras masing-masing yang saling unjuk taring untuk menunjukkan identitas diri mereka, tak jarang bahkan sampai memicu ketegangan sampai ke luar stadion di antara mereka.

Mereka terlihat paling semangat di antara penonton yang lain ketika mendukung timnya, cara apapun mereka lakukan bahkan sampai melakukan tindakan rasial yang ditujukan kepada pemain tim lawan. Rasisme seolah sudah menjadi budaya di Italia, karena banyaknya kasus yang terjadi ditambah penanganan yang kurang efektif. Rasisme merupakan masalah serius di Italia yang harus diperangi

Jika ingin mengurangi secara signifikan kasus rasisme di sepakbola Italia, maka harus dimulai dari kondisi sosial masyarakat Italia sendiri. Tidak sedikit masyarakat Italia saat ini masih dipengaruhi dengan paham fasis, disisi lain banyak juga partai-partai politik neo-fasis yang masih eksis, serta komunitas-komunitas lainnya, sehingga sangat berdampak sekali kepada kondisi sosial masyarakat Italia sendiri. Contoh kecilnya yaitu pada parade perayaan kemenangan timnas sepakbola Italia yang berhasil menjadi juara Piala Dunia tahun 2006, semua rakyat Italia tentu dalam euforia yang gembira.

Seorang wanita muda Italia menceritakan bahwa semua rakyat Italia merayakan kemanangan ini sampai semua orang berteriak karena senang. Ada juga sekelompok pria Senegal ikut merayakan dengan memainkan "djembe", alat musik gendang mereka. Tetapi kemudian, tiba-tiba datang sekelompok orang Italia mendekati mereka dan menyuruh mereka untuk berhenti, karena kemenangan timnas Italia merupakan perayaan orang-orang Italia dan mereka bukan orang Italia.

Sudah menjadi tugas besar bagi FIGC untuk menumpas rasisme di ranah sepakbola Italia, namun janji yang mereka buat untuk memerangi rasisme terkadang hanyalah omong kosong belaka. Kritikan yang baru-baru ini yang ditujukan kepada Serie A terkait karya seni kampanye anti rasis yang terdiri dari gambar tiga kepala monyet pada (16/12/2019) yang dipamerkan di markas liga di kota Milan.
Serie A anti-racism artwork | Doc. photo by nbcnews.com
Simone Fugazzotto selaku sang pencipta lukisan tersebut mengatakan, "Saya hanya melukis monyet sebagai metafora bagi manusia, kami mengembalikan konsepnya kembali pada rasis, karena kita pada dasarnya ialah monyet. Jadi saya melukis monyet barat, monyet asia, dan monyet hitam". Terlepas dari niat yang disampaikan oleh sang seniman, tetap saja karya seni tersebut dinilai konyol dan malah terkesan rasis.

FIGC harus membuktikan keseriusannya memerangi rasisme, jangan sampai membuat orang-orang pesimis terhadap rasisme yang tetap tumbuh subur. Menindak lebih tegas kepada pendukung klub yang terbukti melakukan tindakan rasial adalah suatu keharusan, seperti larangan untuk pergi ke stadion selama beberapa waktu, denda uang kepada klub, dan lain sebagainya. Dengan begitu tindakan rasial di sepakbola Italia dapat berkurang seiring dengan usaha pemerintah Italia 'menertibkan' paham-paham fasis yang masih bebas berkeliaran.

Italia seharusnya meniru Jerman yang dengan tegas menertibkan paham-paham fasis dan melarang simbol-simbolnya untuk tetap eksis, memang keduanya tak dapat disandingkan secara paksa melihat dari segi kondisi dan hal lainnya. Dibutuhkan usaha ekstra dan waktu yang lumayan lama dalam hal ini, karena bisa dilihat fasisme yang masih mengakar kuat di beberapa masyarakat Italia, namun bukan berarti tidak mungkin untuk diatasi.

Hamid Auni

Mahasiswa hukum yang hidup berkelana di tanah perantauan. Tertarik dengan bidang ilmu filsafat, psikologi, sejarah, dan bidang apa saja, kecuali matematika.

Rules Comment :

1. Dilarang Spam
2. Berkomentarlah yang baik
3. Dilarang menggunakan kata komentar dengan kata kasar atau sebagainya
4. Harap untuk tidak menyebarkan link yang membuat spam, rusuh. unsur porno, sara, dan sebangsanya
5. Komentar harus sesuai dengan isi artikel

*Jika ingin bertanya di luar topik, silahkan klik menu Off Topic