MASIGNASUKAv101
513548225817861431

Sapioseksual, Jatuh Cinta karena Kecerdasan Lawan Jenis

Sapioseksual, Jatuh Cinta karena Kecerdasan Lawan Jenis
Add Comments
17/11/19


   Cinta datang secara tiba-tiba, hadir menuruti keinginan alam bawah sadar. Terkadang pula cinta butuh proses untuk tumbuh. Cinta berasal dari daya tarik kepada lawan jenis yang disebabkan oleh banyak hal. Fisik umumnya menjadi daya tarik tersendiri sehingga membuat orang yang melihatnya menjadi jatuh cinta. Namun, tidak semua orang menjadikan fisik sebagai penentu, ada pula sebagian orang yang menganggap fisik bukanlah kriteria utama, terdapat kriteria lain yang berbeda dari biasanya yang mampu meluluhkan hati mereka.

Sapioseksual misalnya, istilah ini merupakan sebutan bagi mereka yang jatuh cinta karena kecerdasan yang dimiliki oleh orang yang dicintainya. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauzziah, terdapat dua macam keindahan, yaitu keindahan batin dan keindahan lahir. Keindahan batin ialah sesuatu yang dicintai jiwa, seperti: ilmu, akal, kemurahan hati, dan lain-lain.

Sedangkan keindahan lahir adalah keindahan yang tampak dari luar atau fisik, seperti rupa yang elok dan sebagainya. Bagi mereka yang sapioseksual beranggapan bahwa "inner beauty" atau kecantikan yang berada di dalam diri seseorang terlihat lebih menawan, kecerdasan lebih menarik hati daripada faktor yang lain.

Konstruksi istilah Sapioseksual berakar dari dua kata, yaitu "sapio" dan "seksual". Kata sapio merujuk kepada kata sapiens yang berarti bijaksana. Istilah ini mulai hangat muncul di permukaan pada tahun 2014 yaitu dari situs kencan OKCupid yang memperluas daftar jenis orentasi seksual dengan menambahkan kata Sapioseksual yang dapat digunakan sebagai identifikasi oleh para penggunanya. Akan tetapi, istilah ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2002 dalam postingan blog Livejournal yang digunakan oleh seorang pengguna yang bernama Wolfieboy.

Sebenarnya Sapioseksual sendiri bukanlah termasuk dalam jenis orientasi seksual, hal tersebut berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Marianne Brandon, seorang psikolog klinis yang berbasis di Maryland, USA. Menurutnya, sapioseksual tidak boleh disalahartikan dengan orientasi seksual yang didefinisikan sebagai identitas seksual seseorang dalam kaitannya dengan jenis kelamin yang menarik mereka. Sapioseksual bukan tergolong jenis identitas seksual, tetapi bisa dibilang merupakan sebab daya tarik utama kepada seseorang dalam hal ini karena kecerdasan.

Walaupun istilah ini mendapatkan kritikan dari banyak pihak, namun seseorang yang dikategorikan sebagai jenis ini yaitu tipe orang yang lebih mendalami kecantikan yang berasal dari "inner beauty" daripada apa yang tampak dari fisik disebut Nietzsche sebagai orang yang berpengetahuan luas. Oleh karena itu, salah satu pencapaian yang dapat dilakukan ialah terkesampingnya cara pandang kuno.

Seorang filsuf besar Jerman tersebut mencontohkannya dalam ketidaksanggupan manusia melihat kekayaan dari "inner beauty" karena terbuainya mata oleh anggapan kecantikan eksternal yang dianggap lebih menawan. Manusia yang sudah menapaki jalan intelektual tidak lagi tertipu oleh kecantikan fisik semata (Emhaf, 2017:32).

Meskipun begitu, seorang sapioseksual juga tidak menutup kemungkinan untuk mempertimbangkan hal lain, seperti penampilan fisik, kebaikan hatinya, selera humor, dan lain-lain. Namun, kecerdasan yang dimiliki oleh pasangan tetap menjadi primadona utama.

Banyak sekali manfaat apabila memiliki pasangan yang cerdas secara intelektual dan emosional. Diantaranya ialah pikirannya lebih terbuka (open-minded), mengambil keputusan dengan bijak tidak terburu-buru, dan yang paling penting itu bisa diajak diskusi berbobot interaktif, jadi topik yang dibicarakan tidak membosankan. Di sisi lain, kemungkinan besar kecerdasan dari orang tua akan turun kepada anaknya.

Hal ini berdasarkan penelitian para peneliti dari Universitas Queensland mereka menemukan bahwa variasi IQ pada anak-anak disebabkan oleh faktor genetik hingga mencapai 40 persen. Penelitian tersebut memisahkan dampak lingkungan terhadap kecerdasan anak. Artinya, setidaknya anak sudah punya modal potensi yang besar dari lahir berupa kecerdasan yang disebabkan faktor genetik.

Walaupun juga nantinya berjalannya waktu banyak faktor lain yang mempengaruhi kecerdasan anak, seperti faktor pergaulan, pendidikan orang tua, dan lain sebagainya. Untuk itu, jika ingin mencetak generasi terbaik bisa dimulai dari selektif memilih pasangan. Hal inilah yang menjadi keuntungan bagi sapioseksual yang menempatkan kecerdasan sebagai prioritas utama dalam memilih pasangan.

Hamid Auni

Mahasiswa hukum yang hidup berkelana di tanah perantauan. Tertarik dengan bidang ilmu filsafat, psikologi, sejarah, dan bidang apa saja, kecuali matematika.

Rules Comment :

1. Dilarang Spam
2. Berkomentarlah yang baik
3. Dilarang menggunakan kata komentar dengan kata kasar atau sebagainya
4. Harap untuk tidak menyebarkan link yang membuat spam, rusuh. unsur porno, sara, dan sebangsanya
5. Komentar harus sesuai dengan isi artikel

*Jika ingin bertanya di luar topik, silahkan klik menu Off Topic