MASIGNASUKAv101
513548225817861431

Joker dan Naruto, Dua Karakter yang Tak Dapat Disandingkan!

Joker dan Naruto, Dua Karakter yang Tak Dapat Disandingkan!
Add Comments
21/10/19


   Joker merupakan karakter villain yang dikenal sebagai musuh bebuyutan Batman. Film Joker versi terbaru baru saja secara resmi dirilis pada 2 Oktober 2019 di Indonesia. Film Joker yang terbaru ini merupakan versi standalone dari DC yang digadang-gadang akan menjuarai Piala Oscar tersebut; merupakan hasil masterpiece dari Sutradara Todd Philips serta karakter Joker sendiri yang diperankan secara mengesankan oleh Joaquin Phoenix. Tak heran, rating-nya yang tinggi dan mendapat banyak pujian dari banyak orang disebut pantas memenangi piala penghargaan bergengsi tersebut.

Akhir-akhir ini di sosial media maupun di forum-forum, sosok Joker sering dibicarakan pada film terbarunya. Dari kesedihan kisah hidupnya sampai pada akhirnya bagaimana ia bertransformasi menjadi sosok karakter yang kejam dan gila. Ungkapan "Orang jahat lahir dari orang baik yang tersakiti" bisa dibilang tepat mengarah kepada sosok Arthur Fleck (Joker). Namun, ungkapan tersebut oleh warganet dijadikan meme yang kemudian juga mengaitkannya kepada sosok Naruto yang dinilai tak berlaku bagi Naruto.

Tak sedikit warganet juga membandingkan kisah Joker dan Naruto; bahwa dua karakter tersebut mempunyai kisah yang sama kelamnya dan sampai pada akhirnya muncul meme di internet bahwa sosok Joker dinilai lebih lemah daripada Naruto, Naruto dinilai tetap bisa bangkit menghadapi berbagai permasalahan hidupnya; ia dikucilkan, dijauhi, dan sebagianya.

Berbanding terbalik dari sosok Joker yang dinilai tak mampu bertahan menghadapi permasalahan hidup, ia pada akhirnya bertransformasi menjadi sosok yang jahat akibat mendapatkan perlakuan yang buruk dari masyarakat, hingga muncul narasi: "Lemah lo badut" dan sebagainya. Namun, benarkah Joker memiliki kisah yang sama kelamnya dengan Naruto?. Mari kita ulas sedikit antara kisah hidup Joker dan Naruto.

Source image: cdn.collider.com
Kisah Arthur Fleck (Joker)
Di dalam filmnya, dikisahkan bahwa Arthur Fleck merupakan seorang warga biasa kelas bawah yang bekerja sebagai badut di sebuah perusahaan kecil. Ia hidup di apartemen kumuh bersama ibunya yang ia rawat sepenuh hati di kota Gotham. Rentetan peristiwa bagaimana Arthur Fleck berubah menjadi sosok Joker yang gila dimulai saat ia diganggu oleh anak-anak jalanan ketika sedang mengadakan pertunjukan di pinggir jalan, ia dibully oleh anak-anak tersebut sampai papan yang digunakan sebagai property dirusak.

Ia pun dipanggil oleh bosnya, ia dimintai penjelasan mengapa papan yang ia gunakan sebagai property rusak. Arthur menjelaskan kejadian peristiwa yang sebenarnya bahwa papan tersebut dirusak oleh anak-anak jalanan dan ia juga dipukuli, namun ia seolah memaklumi tingkah laku anak-anak tersebut dengan mengatakan, "Mereka hanyalah anak-anak".

Namun, penjelasan Arthur tak membuat bosnya percaya begitu saja dan dinilai tidak masuk akal, ia dituntut untuk mengganti rugi papan tersebut dengan ancaman jika tidak gajinya akan dipotong bahkan bisa saja dipecat. Tak sampai disitu, psikiater yang selalu ia temui untuk berkonsultasi dan mendapatkan obat setiap minggunya mengatakan bahwa ia tidak bisa melayani Arthur lagi, tentu hal tersebut membuat dirinya kecewa. Psikiater tersebut dinilai tak banyak membantu karena setiap kali ditemui, ia hanya menanyakan pertanyaan yang sama. "You just ask the same questions every week: 'How's your job?, Are you having negative thoughts?', All i have are negative thoughts".

Psikiater tersebut meminta ma'af dan menjelasan tidak dapat melayani lagi karena pemerintah sudah berhenti memberikan dukungan keuangan layanan tersebut, padahal psikiater tersebut orang yang selalu berkomunikasi dengannya setelah ibunya. Dan dari pertemuan tersebut sekaligus obat terakhir yang biasanya ia konsumsi untuk meredakan penyakitnya.

Perlu diketahui, Arthur memiliki penyakit psikologis yang bernama Pseudobulbar Affect yaitu kondisi yang membuat si penderita tidak mampu menahan tertawanya yang padahal tidak ada sebab kejadian normal yang membuat seseorang tertawa. Terbukti, saat ia di dalam bis ia berusaha menghibur anak kecil di depannya yang kemudian sukses membuat anak tersebut tertawa, namun malah dianggap menganggu oleh ibunya. Secara tiba-tiba, Arthur malah bereaksi dengan tertawa terbahak-bahak sampai tenggorokannya terlihat sakit karena tak mampu menahan tawanya. Dan banyak di adegan lain yang memperlihatkan Arthur tak mampu mengontrol tertawanya yang keluar secara tiba-tiba.

Arthur sebenarnya orang yang baik hati, ia dengan tulus merawat ibunya yang sedang sakit. Ia merawat ibunya dengan baik: membantu ibunya untuk mandi, dengan rutin memberikan ibunya makan dan obat, padahal dirinya sendiri kurus belum makan. Itu karena ia lebih memperhatikan kondisi ibunya daripada dirinya sendiri.

Transformasi menjadi Joker
Singkatnya, ada tiga peristiwa utama yang membuat Arthur Fleck menjadi seorang Joker. Pertama, ketika Arthur dipecat dari pekerjaan satu-satunya karena pistol yang ia bawa dari pemberian temannya jatuh saat menghibur anak-anak di rumah sakit. Atas kejadian tersebut ia dipecat oleh bosnya lewat telepon, ditambah temannya juga memfitnah dirinya mengenai pistol tersebut. Tidak hanya sampai di situ, saat perjalanan pulang ia menaiki kereta dan melihat seorang wanita yang sedang diganggu oleh tiga orang pria.

Namun tiba-tiba penyakit tertawanya kambuh yang berarti ia akan mendapat masalah. Perempuan itu dapat pergi karena ketiga orang pria tersebut mengalihkan fokusnya kepada tertawa Arthur yang mengganggu, akhirnya Arthur dipukul dengan keras lalu dihajar ramai-ramai. Secara spontan, Arthur mengeluarkan pistol dan membunuh ketiga orang tersebut. Kejadian tersebut dalam waktu singkat menjadi berita viral yang disiarkan di TV, koran, dan media lainnya.

Hal yang tak disangka terjadi, tindakan Arthur seolah menjadi pemantik bagi masyarakat untuk mengadakan aksi demo besar-besaran, mereka selama ini muak dengan kebijakan pemerintahan yang menguntungkan pihak oligarki. Mereka menggunakan topeng badut sebagai simbol perlawanan mirip dengan make-up yang selama di film digunakan Arthur untuk berkerja, rupanya ketiga pria yang terbunuh merupakan pegawai yang kaya dan terhormat dari Wayne Corp.

Peristiwa kedua yaitu saat setelah dipecat, ia mencoba peruntungan lewat stand up comedy di sebuah bar. Saat gilirannya tampil, penyakit itu muncul kembali, ia dengan susah payah mengendalikan tertawanya tersebut demi menyampaikan kalimat lelucon yang sudah ia persiapkan. Hingga suatu saat ketika ia menemani ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit, ia melihat rekaman aksi stand up comedy-nya di televisi, namun di situ ia ditertawakan oleh banyak orang karena lawakannya yang garing, rekaman tersebut disiarkan lewat acara talkshow Live! with Murray Franklin yang dipandu oleh idolanya yaitu Murray Franklin , tampak raut wajah Arthur yang kecewa sekaligus sakit hati.

Peristiwa ketiga yaitu ketika Arthur mendapati kenyataan bahwa yang selama ini ia anggap ibu kandungnya, yang ia rawat dengan sepenuh hati ternyata bukan. Ia adalah anak angkat dari seorang perempuan yang mengidap gangguang delusi, ibu angkatnya saat diperiksa oleh dokter sakit jiwa menuturkan bahwa Arthur tumbuh dengan baik dan ia merupakan hasil perkawinannya dengan Tomas Wayne, parahnya lagi selama waktu kecil Arthur sering mendapatkan siksaan oleh mantan pacar ibu angkatnya dan parahnya malah membiarkan perlakuan keji tersebut di depan matanya.

Arthur kecil pun tumbuh dengan perkembangan yang tidak baik, siksaan yang ia dapat berdampak pada kerusakan saraf di otaknya. Ia mengetahui hal tersebut dari dokumen yang dia rampas dari pegawai rumah sakit 'Arkham State Hospital', saat selesai membaca kenyataan pahit tersebut, penyakit itu kambuh lagi ia tertawa sampai tersedak-sedak sambil mengusap air mata yang terus mengalir. Hingga tumbuh dewasa, ia diketahui memiliki beberapa penyakit psikologis: Pseudobulbar Affect, Skizofrenia, dan Erotomania.

Sampai pada suatu adegan di mana Arthur kembali ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya kembali, namun ia menyimpan rencana jahat yaitu dia akan membunuh ibunya. Sebelum membunuh ia sempat berkata kepada ibunya, "I haven’t been happy one day out of my entire f**king life", lalu saat sedang membunuh ibunya ia juga berkata, "I used to think that my life was a tragedy. But now I realize, it’s a f**king comedy". Itulah puncak klimaksnya, saat itu ia sudah tidak punya apapun lagi, hanya tinggal ia sendiri, berjalannya waktu ia bertransformasi dengan cepat menjadi sosok yang aneh dan kejam. 

Kini ia sudah menjadi jiwa yang bebas seolah menjadi sosoknya yang baru, sosok Arthur Fleck yang baik hati telah mati diganti dengan munculnya sosok Joker yang kejam yang berdada dalam dirinya. Kita pun paham, ada yang melatarbelakangi Arthur Fleck menjadi kejam, ia mempunyai mental illnes, tidak bisa mendapatkan pengobatan yang seharusnya ia dapatkan.

Source image: wall.alphacoders.com
Kisah Naruto
Sejak kecil Naruto tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, itu karena kedua orang tuanya telah tiada saat Naruto masih bayi. Sebab orang tuanya meninggal ialah dulu mereka bersama ninja yang lain bekerja sama untuk 'menjinakkan' monster Kyubi ekor sembilan yang mengamuk di desa Konoha. Kyubi berhasil dijinakkan, namun harus dibayar mahal dengan kematian kedua orang tua Naruto. Diejek, dianggap aib, diremehkan, tidak ada yang mau berteman, dikucilkan lingkungan sekitarnya adalah perlakuan yang didapatkan Naruto kecil.

Segel Kyubi yang ada dalam tubuhnya adalah alasan mengapa ia dikucilkan dari masyarakat, monster yang dahulu menyerang desa berada dalam tubuhnya yang suatu ketika bisa saja muncul keluar kembali. Ia dianggap sumber kekacauan, padahal ia tidak tahu apa-apa dan tidak terlibat kekacauan yang terjadi pada masa lampau. Malah seharusnya masyarakat Konoha harus berterima kasih kepada Naruto dan kedua orangtuanya, sebab orang tua Naruto merupakan aktor utama yang berhasil menaklukkan Kyubi dan tidak ada cara lain selain monster tersebut disegel ke dalam tubuh Naruto.

Saat berada di bangku sekolah juga demikian, banyak yang tidak mau berteman dengan Naruto. Sebenanrnya teman-teman sekolahnya tidak masalah berteman dengan Naruto, namun karena orang tua mereka yang melarang. Naruto selalu berbuat usil hingga menjadi biang onar di sekolah, hal tersebut ia lakukan untuk mencari perhatian kepada semua orang. Akan tetapi, ada beberapa orang yang mau berteman dengannya yaitu Sasuke dan Sakura, dan tercatat pula masih ada yang selalu memberinya motivasi yaitu: guru Iruka, guru Kakashi, guru Jiraiya, dan Sarutobi (Hokage ketiga).

Walaupun dia sering gagal dalam ujian, pecundang di kelas, tapi dengan tekad semangat ninjanya serta kerja keras ia mampu membuktikan kemampuannya sehingga membuat orang percaya dan mengakui keberadaannya. Walaupun ia dahulu dikucilkan masyarakat, namun Naruto tidak dendam, ia tetap membuktikan diri untuk menjadi ninja yang kuat dan berkeinginan untuk menjadi hokage. Naruto mulai diakui kehebatannya saat berhasil mengalahkan Pein Akatsuki, terus berlanjut sampai ke perang dunia ninja yang keempat melawan Obito, Madara, dan aliansinya. Hingga sampai pada akhirnya ia berhasil mewujudkan mimpinya menjadi hokage.

Perbedaan kondisi tak bisa dipukul rata
Setelah melihat 2 kisah tokoh di atas secara sekilas, Arthur Fleck sebenarnya ialah seorang pria dengan karakter baik hati, sayang kepada anak kecil, dan tidak mau menyakiti orang yang baik terhadap dirinya. Banyak faktor negatif yang membuat dia berubah menjadi sosok yang kejam. Dia sudah berjuang untuk sembuh dengan meminum obat dan terapi namun subsidi pelayanannya dihentikan oleh pemerintah, tidak hanya sampai disitu ia juga mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakat.

Dengan kondisi tersebut, Arthur harus berjuang dua kali: melawan penyakitnya sendiri dan mencoba untuk tetap bisa menjadi ‘orang normal’ dalam pergaulan sosial. Di dalam buku catatannya tertulis, "The worst part of having mental illness is people exact you to behave as if you don't". Dua hal yang gagal dilakukan Arthur, karena juga krisis dukungan moril dari lingkungan yang justru malah tak mengacuhkan keberadaannya.

Kisah semasa kecil Naruto hampir serupa seperti kisah Arthur. Naruto dikucilkan, menjadi anak yang terbuang dari masyarakat. Akan tetapi, lewat semangat dan kerja kerasnya membuat dia dapat menggapai mimpi, masyarakat pun mengakui keberadaannya. Namun, yang menjadi pembeda ialah semasa kecil Naruto tidak pernah disiksa terus-terusan secara fisik, ia masih punya orang-orang yang peduli dengannya, dan yang terpenting ia tidak memiliki penyakit mental. 

Arthur semasa kecil hidupnya selalu disiksa dan tidak ada satu pun orang yang memberikannya motivasi sampai ia dewasa selain ibu angkatnya. Hingga ia memiliki mental illness, pengobatannya dihentikan, dan tetap dicampakkan dari lingkungan masyarakat. Arthur tidak pernah menghendaki dirinya menjadi Joker, seorang kriminal yang kejam. Dia punya cita-cita yaitu ingin membawa kebahagiaan dan suka cita kepada semua orang. Beragam faktor internal dan eksternal lah yang merubah dirinya menjadi sosok Joker. 

Tidak adil rasanya jika kita samakan kisah Arthur Fleck (Joke) dengan Naruto dan dengan mudah menyatakan Arthur memiliki mental lebih lemah dari Naruto, melihat perjuangan keras dan semangat Naruto yang seolah mempecundangi Joker. Dua Karakter tersebut tidak bisa disandingkan, karena perbedaan latar belakang yang membuat dua karakter tersebut berbeda.

Lewat film Joker ini kita merasa iba terhadap derita-derita yang dialami Arthur dan mengerti bagaimana ia bertransformasi menjadi Joker yang semula orang yang baik hati namun tersakiti berubah menjadi karakter villain. Agaknya sang sutradara mengajak kepada kita untuk berempati terhadap orang lain khususnya terhadap orang yang memiliki gangguan mental. Mengerti apa yang dilalui oleh orang lain lewat sudut pandang orang tersebut, pasti ada sebab dibalik setiap kejadian yang dilakukan oleh setiap orang.

Namun, kalimat "Orang jahat lahir dari orang baik yang tersakiti" tidak selamanya benar apalagi malah seolah membenarkan perilaku kriminalitas, kata tersebut memang cocok disematkan kepada sosok Arthur melihat latar belakang kisah hidupnya. Kalimat tersebut jangan sampai disalahgunakan oleh orang-orang yang seolah ingin bergelagat seperti Joker bahwa ia juga tersakiti. Pengalaman hidup yang dialami Arthur sangat menyakitkan.

Jangan hanya karena menonton satu film, membuat seolah-olah mempunyai kisah hidup yang sama dan menjadi nihilis seperti Joker. Alangkah lebih baik diantara karakter Joker dan Naruto sebaiknya meniru semangat hidup Naruto, banyak pesan moral yang didapat. Walaupun ia dikucilkan, namun ia tetap bisa membuktikan dirinya, ia lebih fokus untuk menggapai mimpinya dan tidak balas dendam terhadap orang yang menghinanya. 

Hamid A.

Mahasiswa hukum yang hidup berkelana di tanah perantauan. Tertarik dengan bidang ilmu filsafat, psikologi, sejarah, dan bidang apa saja, kecuali matematika.

Rules Comment :

1. Dilarang Spam
2. Berkomentarlah yang baik
3. Dilarang menggunakan kata komentar dengan kata kasar atau sebagainya
4. Harap untuk tidak menyebarkan link yang membuat spam, rusuh. unsur porno, sara, dan sebangsanya
5. Komentar harus sesuai dengan isi artikel

*Jika ingin bertanya di luar topik, silahkan klik menu Off Topic