MASIGNASUKAv101
513548225817861431

Dampak Gejala Nomophobia yang Merusak Generasi Muda

Dampak Gejala Nomophobia yang Merusak Generasi Muda
Add Comments
30/09/19


 Nomophobia merupakan singkatan dari no-mobile-phone-phobia adalah istilah yang menggambarkan kegelisahan berlebihan yang dialami seseorang ketika tidak sedang berhubungan dengan telepon genggamnya; baik karena kehabisan baterai, pulsa, paket data, atau tidak ada jaringan. Jadi, maksud dari Nomophobia di sini ialah bukan fobia yang takut ketika melihat atau menyentuh telepon genggam, akan tetapi fobia yang dimaksud ialah ketakutan atau merasa cemas ketika tidak sedang berinteraksi dengan telepon genggam.

Nomophobia dianggap sebagai gangguan dunia modern yang berasal dari perkembangan teknologi dan kemajuan yang dihasilkan oleh komunikasi virtual. Meskipun perkembangan teknologi telah menghasilkan smartphone yang dapat mempermudah akses informasi dan komunikasi jarak jauh lewat jaringan internet, akan tetapi terdapat dampak buruk yang mengakibatkan seseorang menjadi candu hingga mengalami Nomophobia. 


Istilah Nomophobia diciptakan oleh Kantor Pos Inggris selama penelitiannya di tahun 2010. Kantor Pos Inggris menugaskan YouGov, sebuah organisasi penelitian-untuk melihat kecemasan yang diderita oleh pengguna ponsel. Studi ini menemukan bahwa hampir 53 persen pengguna ponsel di Inggris cenderung cemas ketika tidak dapat terhubung dengan ponsel mereka, kehabisan baterai atau kredit, atau tidak sedang berada dalam jangkauan jaringan.

Profesor Gail Kinman dari Universitas Bedfordshire, Inggris, menyatakan bahwa konsekuensi dari Nomophobia sama dengan kecanduan lainnya: "Nomophobia dapat mendorong seseorang menjadi sibuk dengan ponsel mereka dan membuat mereka mengalami depresi, cemas, dan kesepian. Hal ini benar terjadi terutama bagi seseorang dengan gejala terjadinya kegelisahan, yang mungkin menyamakan ponsel mereka dengan selimut yang nyaman".

Nomophobia banyak menjangkit generasi muda. Anak muda zaman sekarang terlihat lebih sibuk dengan smartphone-nya, seolah sudah menjadi bagian yang melekat dalam tubuh, ketika tidak sedang berinteraksi dengan smartphone dunia menjadi hampa dan merasa hidup di zaman batu. Bahkan ketika acara kumpul bersama teman atau kelurga, masing-masing sibuk dengan smartphone-nya sendiri. Kebiasaa terhubung dan selalu update seolah mejadi hal yang tak apat dipisahkan, padahal banyak sekali dampak buruk yang ditimpulkan dari gejala Nomophobia.

Merubah manusia menjadi zombie
Di jalan-jalan atau di tempat fasilitas umum lainnya kita dapat melihat banyak orang terutama generasi muda sekarang sudah menjadi "smombie". Smombie merupakan perpaduan kata dari smartphone dan zombie, istilah ini muncul pada tahun 2015 dan merujuk pada pengguna smartphone yang berjalan sembari menatap layar smartphone-nya. Bisa dilihat mereka yang berjalan pelan dengan arah yang kurang beraturan, padahal sangat membahayakan diri sendiri, karena pandangan mata jadi terbagi hingga hilangnya konsentrasi untuk fokus memperhatikan jalan.

Tidak hanya membahayakan diri sendiri, namun juga dapat membahayakan orang lain. Disadur dari situs suara.com (22/9/2019), Korps Lalu Lintas Polri mencatat kasus kecelakaan dari tahun 2014 sampai 2018 paling banyak didominasi oleh kaum milenial dengan rata-rata umur 16 sampai 35 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, jumlah korban kecelakaan mencapai 18.000 jiwa. Penyebab terjadinya kecelakaan tersebut ialah karena pengendara lebih fokus memainkan smartphone saat menyetir kendaraan, sehingga konsentrasi berkurang yang mengakibatkan kecelakaan terjadi.

Rendahnya tingkat Literasi 
Kaum milenial saat ini kebanyakan cenderung lebih asik bersosial media ketimbang membaca buku, karena memang sifat smartphone yaitu "mobility" mudah dibawa kemana-mana dan banyak beragam fitur interaktif yang mudah didapatkan lewat internet hanya dengan satu genggaman. Disadur dari situs kompas.com(29/9/2019), terjadi peningkatan 20 juta pengguna media sosial di Indonesia dibanding tahun lalu. 

Generasi milenial mendominasi penggunaan media sosial, penggunanya di Indonesia paling banyak berada pada rentang usia 18-34 tahun. Hal tersebut berdasarkan temuan riset yang diterbitkan pada 31 Januari 2019 dalam laporan berjudul "Digital Around The World 2019" dengan durasi penelitian selama Januari 2018 sampai Januari 2019 dari We Are Social, perusahaan media sosial asal Inggris, mengungkapkan bahwa dari total 268,2 juta penduduk di Indonesia, 150 juta di antaranya telah menggunakan media sosial. Dengan demikian, angka penetrasinya sekitar 56 persen

Daripada membuang banyak waktu luang hanya untuk scoll timeline media sosial, lebih baik mengisi waktu luang dengan membaca buku, sebab dengan membaca buku sama saja kita berinvestasi perihal masa depan demi mengasah intelektualitas. Penyakit Nomophobia yang tidak bijak menggunakan smartphone inilah yang mengganggu dan harus dilawan, akan menjadi parah ketika intensitas menatap layar smartphone semakin tinggi dalam waktu yang lama seperti terus-terusan mengecek setiap notifikasi yang masuk dan asik bereksistensi di media sosial.

Senada dengan hal tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menilai buku-buku tidak laku bukan karena harganya yang terlalu mahal, lantaran karena daya baca masyarakat yang rendah meski minat bacanya ada, "Saya agak khawatir bahwa sesungguhnya di Indonesia itu bukan kita tidak punya minat baca, minat bacanya mungkin ada, melainkan daya bacanya yang rendah. Kita harus bedakan antara minat baca dan daya baca," kata Anies di Jakarta, Rabu (4/9/2019). 


Lebih lanjut Anies mengatakan, "Minat baca masyarakat Indonesia, cukup tinggi. Akan tetapi, dalam membaca pesan di aplikasi WhatsApp. Alhamdulillah, minat baca kita tinggi, minat baca WA itu cukup tinggi. Bangun pagi buka WA, minat baca tinggi. Akan tetapi, WA pun begitu agak panjang lewat."

Padahal penyebaran arus informasi lagi gencar-gencarnya, termasuk berita hoax pula. Minat dan daya baca sangat mempengaruhi ketika kita menerima informasi yang tersebar di internet. Jika tidak teliti, maka kita akan menjadi korban dan bahkan ikut ambil bagian menyebar berita hoax tersebut. Semakin tinggi daya baca seseorang, maka akan semakin kritis terhadap informasi yang diterima, tidak mudah percaya, dan mengecek terlebih dahulu sampai tuntas kebenaran sebuah berita. 

Suburnya hoax diakibatkan minat dan daya baca yang rendah, apalagi setiap informasi yang didapat langsung bersikap reaktif. Menurut penuturan Niken Widiastuti selaku Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo di Jakarta (5/5/2018) "Masyarakat Indonesia itu sangat cerewet di medsos, tetapi minat bacanya rendah. Akhirnya banyak yang tidak tahu informasi sebenarnya yang beredar di medsos, tapi langsung disebar saja tanpa melakukan verifikasi."


Mengurangi tingkat produktivitas 
Penderita Nomophobia menghabiskan banyak waktu dengan smartphone-nya, sudah menjadi hal yang wajib bahwa smartphone harus berada di dekatnya. Hal inilah yang dapat mengganggu aktivitas kerja ataupun aktivitas lain, dampaknya konsentrasi pun terpecah hingga aktivitas tidak efektif yang mengakibatkan produktivitas kerja tidak maksimal.

Selain itu, penderita Nomophobia sibuk berinteraksi di dunia maya daripada di lingkungan sekitarnya. Kebiasaan buruk tersebut terbawa hingga malam hari saat waktu menjelang tidur. Rasa tidak mau pisah dengan smartphone sangat berat hingga rela menahan rasa kantuk, memberi sugesti pada otak agar terus bekerja menatap layar smartphone. Saat baru bangun tidur penderita Nomophobia selalu mengecek smartphone-nya, gelisah ada rasa yang kurang jika smartphone tidak berada di dekatnya.
Doc. photo by Isabell Winter on Unsplash
Salah satu penyebab insomnia berasal dari smartphone. Karena pancaran sinar dari layar smartphone membuat mata tegang hingga dapat menunda rasa kantuk. Hal tersebut sejalan dengan penilitian yang dilakukan oleh Rensselaer Polytechnic Institute di New York, AS. Menurut para ahli, paparan cahaya dari smartphone dapat menurunkan kadar hormon melatonin dalam tubuh hingga 23 persen. Melatonin adalah zat alami dalam tubuh yang membantu dan memberitahu saat waktunya untuk tidur.

Penderita Nomophobia acapkali tidak dapat melepaskan smartphone dari genggaman tangannya, bahkan lebih parah lagi sampai membawa smartphone ke dalam WC atau  ke kamar mandi. Mungkin istilah "Smartphone for Smart People" adalah kalimat yang tepat untuk menyinggung kawula muda yang sudah diperbudak oleh smartphone. Padahal menentukan skala priotitas itu penting, waktu luang akan sangat bermanfaat jika digunakan untuk investasi masa depan, seperti membaca literatur, mengembangkan bakat, mengikuti majelis kajian ilmu, dan kegiatan positif lain.

Hamid Auni

Mahasiswa hukum yang hidup berkelana di tanah perantauan. Tertarik dengan bidang ilmu filsafat, psikologi, sejarah, dan bidang apa saja, kecuali matematika.

Rules Comment :

1. Dilarang Spam
2. Berkomentarlah yang baik
3. Dilarang menggunakan kata komentar dengan kata kasar atau sebagainya
4. Harap untuk tidak menyebarkan link yang membuat spam, rusuh. unsur porno, sara, dan sebangsanya
5. Komentar harus sesuai dengan isi artikel

*Jika ingin bertanya di luar topik, silahkan klik menu Off Topic