MASIGNASUKAv101
513548225817861431

Merawat Semangat Perjuangan Para Pendiri Bangsa

Merawat Semangat Perjuangan Para Pendiri Bangsa
Add Comments
15/02/19


   Berdirinya suatu negara pasti memiliki sejarahnya tersendiri, tak terkecuali Indonesia. Para pahlawan kita dahulu dari berbagai kalangan telah memperjuangkan agar negeri ini merdeka serta bebas dari berbagai bentuk tindak penjajahan kolonialisme maupun imperialisme.
 
Tokoh utama yang menjadi motor penggerak kemerdekaan Indonesia ialah dari "The Founding Fathers" yang telah menumpahkan pemikiran-pemikiran serta tenaga mereka untuk nasib bangsa ini ke depan serta berperan dalam perumusan bentuk negara yang akan dikelola setelah Indonesia merdeka.

The Founding Fathers secara harfiah artinya "Bapak Pendiri Bangsa", secara istilah dapat diartikan yaitu para tokoh yang berjasa sebagai peletak dasar dibangunnya bangsa ini. Perjuangan keras tersebut tidak sia-sia, terbukti tercatat dalam sejarah pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno sebagai perwakilan bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang disiarkan lewat radio yang kemudian diberitakan lewat media massa koran waktu itu.
 
Namun perjuangan belum selesai, ada tugas selanjutnya yang menanti yaitu bagaimana negara Indonesia tetap kokoh berdiri tanpa adanya perpecahan. Kita sebagai rakyat Indonesia tentu harus mewarisi semangat perjuangan para pahlawan.

Jika dulu semangat para pahlawan adalah semangat memperjuangkan kemerdekaan, di masa sekarang semangat perjuangan kita ialah menjaga persatuan. Semangat nasionalisme inilah yang harus kita rawat sebagai generasi penerus bangsa. Namun, untuk menjaga persatuan bangsa diperlukan kerja sama seluruh elemen masyarakat serta ada beberapa hal yang harus dihindari.

1. Menjauhi sifat etnosentrisme
Etnosentrisme sendiri ialah suatu sikap yang berlebihan akan suku dan budayanya sendiri, menganggap sukunya lebih baik daripada suku lain atau bisa juga disebut dengan suatu sikap yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. Hal ini sangat berbahaya dan mesti kita jauhi, karena dampaknya nanti akan menghambat integrasi nasional, menimbulkan konflik sosial antar suku, mengurangi keobjektifan ilmu pengetahuan, dan lain-lain

2. Jangan hanya retorika semata
Kita tidak perlu bertepuk dada merasa paling membela NKRI, karena membela kedaulatan negara merupakan kewajiban seluruh rakyat Indonesia, sesuai dengan pasal 27 ayat 3 UUD 1945 yang tertulis "Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara". Lalu kita juga tidak perlu teriak-teriak seolah paling Pancasilais, apalagi seolah menuduh orang lain tidak pancasilais dan anti NKRI yang belum mempunyai bukti yang konkret.

Pancasila adalah pengamalan, bukan klaim semata.Bagaimana mungkin orang yang mengaku Pancasilais berpedoman pada Pancasila, tetapi sikap dan perilakunya sebagai warga negara tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila.
 
Dulu seorang D.N. Aidit pun mengaku paling Pancasilais, seperti yang tertuang dalam bukunya berjudul "MEMBELA PANTJASILA" yang diterbitkan pada tahun 1964. Lalu apa yang terjadi? Terbukti setahun kemudian dalam catatan sejarah dia bersama kelompoknya melakukan pemberontakan terhadap Indonesia yang dikenal dengan istilah G-30S/PKI tahun 1965. Aidit adalah fakta sejarah pengkhianat Pancasila tetapi mengklaim membela Pancasila.

3. Hindari Fanatik Kelompok
Fanatisme merupakan paham atau perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan. Fanatisme sering kali menghilangkan akal sehat dari pelakunya, memandang segala sesuatu (kebenaran) bukan berdasarkan objektivitas tetapi secara subjektivitas.
 
Terlalu fanatik kepada kelompok dapat merusak integrasi nasional, bagaimana tidak? jika antar kelompok saling memusuhi, merasa paling benar, saling melempar tuduhan, mengecap radikal dan intoleran ke kelompok lain yang padahal belum terbukti kebenarannya.

Sebab munculnya perpecahan menurut bisa diakibatkan persikutan antar kelompok, mengklaim dirinya paling benar, paling berjasa pada bangsa, dan paling baik. Bagaimana bisa negara yang besar ini terjaga jika ada kelompok yang bersikap seperti yang disebutkan tadi. Hal seperti inilah yang dapat memecah belah persatuan, yang seharusnya dilakukan adalah sama-sama saling menghormati perbedaan dan saling introspeksi diri masing-masing.

Berkaca pada sejarah, dahulu para pejuang tidak saling mempermasalahkan darimana mereka berasal, yang terpenting adalah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bersama-sama. Bung Karno pernah berkata "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya", oleh karena itu mari kita menghormati jasa para pahlawan dengan cara menjaga persatuan. Dalam kalimat lain Bung Karno juga berkata "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri".

Jangan sampai persatuan bangsa ini rusak sebab ulah kita sendiri. Hindari segala bentuk arogansi yang dapat memecah belah persatuan. Susah-susah para pejuang membuat negeri ini merdeka, maka jangan sampai kita mengecewakan perjuangan mereka. Mari kita wariskan semangat perjuangan mereka untuk menjaga persatuan bangsa ini, wujudkan sikap toleransi serta koletif mewujudkan amanat dan cita-cita perjuangan bangsa yang tertulis dalam amanat Pembukaan UUD 1945.

Hamid A.

Mahasiswa hukum yang hidup berkelana di tanah perantauan. Tertarik dengan bidang ilmu filsafat, psikologi, sejarah, dan bidang apa saja, kecuali matematika.

Rules Comment :

1. Dilarang Spam
2. Berkomentarlah yang baik
3. Dilarang menggunakan kata komentar dengan kata kasar atau sebagainya
4. Harap untuk tidak menyebarkan link yang membuat spam, rusuh. unsur porno, sara, dan sebangsanya
5. Komentar harus sesuai dengan isi artikel

*Jika ingin bertanya di luar topik, silahkan klik menu Off Topic